
Kerusuhan di Yalimo, Papua Pegunungan memaksa personel aparat keamanan dari TNI-Polri mengevakuasi warga. Sejumlah petugas dilaporkan mengalami luka-luka. (Puspen TNI)
JawaPos.com - Isu SARA yang berhembus di Yalimo, Papua Pegunungan, sempat membuat daerah tersebut membara. Sejumlah pelajar yang marah turun ke jalan. Aksi tersebut disertai pembakaran sejumlah fasilitas umum. Sempat membara hingga warga dievakuasi oleh aparat keamanan, TNI AD memastikan bahwa saat ini kondisi di Yalimo perlahan mulai kondusif.
Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana di Jakarta pada Sabtu (20/9). Dia menyampaikan bahwa Kodam XVII/Cenderawasih secara tegas dan jelas sudah menyampaikan perkembangan situasi dan kondisi di Yalimo. Termasuk duduk persoalan yang menyebabkan pembakaran.
”Jadi, ada pertikaian, perselisihan di antara anak-anak sekolah. Mungkin penyelesaiannya itu kurang tuntas ya, sehingga menimbulkan pertikaian yang lebih besar. Jadi, sekali lagi saya sampaikan untuk Yalimo saat ini situasi kondusif,” kata dia.
Berdasar laporan yang diterima oleh TNI AD, saat ini kegiatan dan aktivitas masyarakat di Yalimo berangsur membaik. Bersamaan dengan itu, kini tengah dilaksanakan upaya pembenahan-pembenahan akibat kerugian material yang dialami pasca kerusuhan yang sempat terjadi. Selain itu, korban luka juga dipastikan sudah ditangani.
”Jadi kami menyampaikan komunikasi terakhir saya dengan jajaran dari Kodam XVII/Cenderawasih untuk Yalimo kondusif,” ucap dia.
Wahyu pun memastikan bahwa prajurit TNI AD yang mengalami luka-luka saat bertugas di Yalimo kini kondisinya sudah membaik. Para prajurit itu dikabarkan sempat terjebak di antara massa yang bersenjata saat hendak mengevakuasi warga dan guru dari salah satu distrik di Yalimo.
Selain penanganan yang sudah berjalan, Wahyu menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Yalimo harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Jangan sampai hal serupa terulang. Sebab, tidak saja menciptakan kondisi yang tidak kondusif, masyarakat juga dirugikan.
”Jadi, banyak faktor yang bisa menjadi bahan pelajaran untuk kita semua. Artinya yang utama salah satu faktornya adalah komunikasi. Komunikasi terutama apabila permasalahan itu sudah terjadi. Harus ada komunikasi dari pihak-pihak yang berkompeten. Itu harus ada tokoh agama atau tokoh masyarakat yang bisa dijadikan panutan, itu apabila telah terjadi,” ujarnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
