
Aparat Densus 88 dan Brimob ketika menghadapi serangan dari napiter dari dalam Rutan Mako Brimob
JawaPos.com - Tim Pengacara Muslim (TPM) membuka fakta-fakta baru yang diduga menjadi pemicu kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Menurut koordinator TPM Achmad Michdan, makanan bukanlah satu-satunya yang menjadi ledakan kemarahan para narapidana tersebut.
Achmad Michdan menilai kerusuhan di Rutan Mako Brimob sebagai akumulasi kemarahan para napi. Selama ini banyak perlakuan petugas yang dianggap tidak manusiawi. "Biasanya setiap Ramadan mereka (keluarga napi, Red) boleh bawa makanan, sekarang tidak boleh, harus diperiksa segala macam. Mungkin sudah SOP-nya," kata Michdan kemarin (10/5).
Meski demikian, Michdan menyebut makanan bukan satu-satunya faktor. Banyak perlakuan petugas yang tidak disukai para napi. Mulai saat proses penangkapan, penahanan, sampai pengadilan. "Mestinya tangkap saja baik-baik," tuturnya.
Belum lagi perlakuan yang diterima keluarga napi. Misalnya, untuk menjenguk suami, istri para napi tersebut harus membuka baju terlebih dahulu sebagai bagian dari pemeriksaan. Meskipun yang melakukan proses itu sesama perempuan (polwan), prosedur tersebut tetap saja menimbulkan kemarahan saat sang istri bercerita kepada suaminya.
Sebagaimana diketahui, Operasi pembebasan Rutan Mako Brimob melibatkan sekitar 850 personel. Mereka berhasil memaksa 155 napiter menyerah. Sejumlah amunisi dan senjata api yang dikuasai napiter berhasil diamankan. Senjata itu berasal dari senjata polisi yang mereka rebut, juga senjata sitaan yang disimpan di rutan dan mereka kuasai lagi.
Lima polisi yang menjadi korban tewas, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, adalah anggota tim pemberkasan. Bukan tim pemukul. Mereka memang memiliki senjata, tapi tugasnya melakukan penyidikan. "Memeriksa terduga teroris."
Tito berjanji berbuat lebih kepada keluarga korban, selain memberikan kenaikan pangkat luar biasa. Tito bersama istrinya akan mendatangi satu per satu keluarga korban. "Mereka anak-anak saya," jelasnya.
Menurut dia, anak korban akan diperhatikan hingga besar. Pendidikan hingga semunya akan menjadi tanggung jawab Kapolri. "Saya yang tangani," janjinya.
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam keterangannya menyebut, peristiwa itu bermula usai salat Magrib sekitar pukul 19.30. "Ada napi yang menanyakan titipan makanan napi dari keluarga," ujar Argo, Rabu (9/5).
Kemudian salah satu dari anggota tahanan dan barang bukti menyampaikan bahwa titipan makanan dipegang oleh anggota lain. Napi tersebut pun tidak terima dan mengajak rekan-rekan napi lainnya untuk melakukan kerusuhan dari Blok C dan B.
"Lalu napi membobol pintu dan dinding sel. Kemudian tidak terkontrol lagi napi menyebar keluar sel dan mengarah ke ruangan penyidik dan memukul beberapa anggota penyidik yang sedang BAP tersangka baru," tutur Argo.
Adapun anggota yang menjadi korban kerusuhan itu berjumlah empat orang. Yakni, Iptu Sulastri, Brigadir Haris, Briptu Hadi Nata, dan Bripda Ramadan. Saat ini, kasus tersebut masih ditangani Polres Metro Depok.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
