Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juli 2017 | 18.36 WIB

Maknyuss dan Cap Ayam Jago Masih Beredar, YLKI Minta Ditarik

Beras Maknyuss masih beredar di Jakarta - Image

Beras Maknyuss masih beredar di Jakarta

JawaPos.com - Sehari setelah digerebek pihak kepolisian, aktivitas penggilingan dan distribusi beras di gudang PT Indo Beras Unggul (IBU) terhenti. Personel keamanan menjaga ketat gudang yang menjadi tempat pengoplosan beras sampai seribu ton di Km 60 Jalan Raya Rengas Bandung, Karangsambung, Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tersebut. 



Sejak pagi, Mursid Sudjono selaku ketua regu pengamanan menahan awak media yang akan mengambil gambar sebatas dari luar pagar depan. "Perintah dari atasan, silakan kalau ingin melihat, tapi cukup di ring 1 saja," katanya kepada Jawa Pos kemarin.



Aktivitas bongkar muat pun sepi. Hanya tampak deretan truk besar diparkir di halaman gudang. Dari dalam gudang pun tidak terdengar aktivitas penggilingan gabah. 



Menurut salah seorang personel keamanan, Yusuf B. Sanusi, gudang yang disegel adalah gudang nomor 1. Bangunannya masih baru. Di sekelilingnya juga terdapat gudang-gudang kecil untuk keperluan bongkar muat. Juga ada satu instalasi penggilingan. "Gabah biasanya masuk dan digiling di situ," katanya sambil menunjuk ke dalam area kompleks.



Berdasar informasi yang dihimpun, hampir 90 persen pekerja dari gudang tersebut adalah warga lokal. Jumlahnya 400 hingga 500-an orang. Ada yang bekerja sebagai karyawan, kuli, dan buruh lepas. 



Namun, warga sekitar tak pernah mendengar praktik pengoplosan di gudang tersebut. Mereka juga tidak pernah melihat maupun membeli beras-beras dengan merek dari PT IBU. "Kami kalau beli beras eceran, biasanya di Pasar Lemah Abang," kata Erti, warga. 



Meski demikian, beberapa warga menyebutkan bahwa beras perusahaan tersebut tergolong bagus. Ardi, warga kampung Babakan, mengatakan bahwa salah seorang anaknya pernah bekerja di PT IBU. Setiap Lebaran, PT IBU memberikan tunjangan hari raya (THR) berupa beberapa kantong beras merek gudang mereka. "Berasnya bagus, putih," katanya. 



Sementara itu, bantahan atas dugaan mengoplos beras disuarakan Anton Apriyantono, komisaris utama PT Tiga Pilar Sejahtera, induk perusahaan PT IBU. Dia menjelaskan bahwa pihaknya memproduksi beras dengan label dan merek. Bukan memproduksi beras khusus dari varietas dan kualitas tertentu. "Proses pen­campuran memang ada, tapi antarvarietas. Itu namanya bukan pengoplosan," katanya kepada Jawa Pos kemarin. 



Selain itu, menurut mantan menteri pertanian tersebut, beras yang diproduksi PT IBU harus sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan. "Lalu, kami jual dengan nama mereka seperti Maknyuss, bukan dengan nama varietasnya," jelasnya. 



Sementara itu, meski sempat beredar kabar bahwa beras Cap Ayam Jago dan Maknyuss ditarik dari pasaran, hingga kemarin beras tersebut masih dijual bebas di beberapa peritel modern seperti Alfamidi maupun Superindo di Jakarta. Para pegawai mengatakan bahwa belum ada pemberitahuan penarikan beras dengan dua merek tersebut.



Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyebutkan, tindakan PT IBU sangat merugikan konsumen. Karena itu, Tulus meminta pihak berwajib untuk mengusut tuntas kasus oplosan beras itu. "Jangan sampai proses penegakan hukum ini berjalan antiklimaks dengan hukuman yang ringan bagi pelakunya,''.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore