Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Mei 2017 | 22.13 WIB

Kalau Benar Praka Yudha Bunuh Diri, Itu Tindakan Implusif

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Kematian prajurit Kopaskhas TNI AU Praka Yudha Prihantoro masih menjadi teka-teki. Apakah murni bunuh diri atau memang dipicu penganiyaaan oleh para seniornya para perwira muda di TNI AU.


Kendati demikian, kini pihak TNI AU menegaskan kematiannya akibat bunuh diri yang bermula dari mendapat pembinaan dari seniornya, akibat persoalan utang piutang.


Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan, berbagai tekanan bisa saja dialami setiap orang termasuk prajurit di pendidikan militer. Berbagai tantangan, tumpukan tugas, penghormatan senioritas menuntut prajurit militer juga harus cerdas dalam mengelola manajemen stres.


"Pertanyaannya mengapa ada orang yang stres ada yang enggak. Kemungkinan yang dialami Praka Yudha dirasa menekan berlebihan. Setiap orang memiliki level stres manajemen yang beda-beda. Saya analogikan seperti plafon rumah ada yang tinggi, ada yang rendah. Kalau plafon rendah, tentu saat masuk rumah kepala gampang kepentok," tegas Liza kepada JawaPos.com, Sabtu (13/5).


Liza menilai Praka Yudha memiliki latar belakang kesulitan ekonomi keluarga. Praka Yudha juga dikenal sebagai tulang punggung keluarga, sedang banyak pengeluaran dan terlilit utang. "Kesatuannya tahu itu. Lalu dia (almarhum) merasa malu, enggak tahu mau ngapain. Apalagi Praka Yudha merasa tertekan dihukum seniornya, maka egonya muncul dan terganggu," papar Liza.


Praka Yudha dikenal sebagai prajurit yang berprestasi dan baru saja pulang dari Lebanon. Saat ditanya mengapa kecerdasan akademik tak bisa menghalangi orang melakukan bunuh diri, Liza menegaskan kecerdasan emosi dan akademik seseorang berbeda.


"Enggak menutup kemungkinan Praka Yudha tanpa pikir panjang. Sebab dua hal yang berbeda antara cerdas intelektual dan kecerdasan emosional. Meski otak cerdas tapi emosi jeblok tetap membuat orang tak mampu mengatasi stres," tukasnya.


Akibatnya, apa yang dialami Praka Yudha adalah tindakan impulsif yakni perilaku yang dilakukan tiba-tiba tanpa berpikir. "Main ambil sikap saja, bunuh diri. Sebetulnya stres itu bisa di mana-mana sih tak hanya di lingkungan militer dan polri saja. Namun militer memang budayanya itu seperti apa, proses belajar seperti apa," katanya.


Solusinya, kata Liza, kecerdasan intelektual dan emosional harus dibekali di dalam pendidikan militer. Tujuannya agar siswa memiliki kemampuan pengelolaan stres. Ujian psikotes saat masuk ke pendidikan militer juga seharusnya dapat menjadi pedoman untuk pembinaan.


"Psikotes bisa menunjukkan karakter seseorang. Hasilnya akan terlihat. Dari situ bisa jadi pedoman pembinaannya seperti apa sih nanntinya," tandasnya.


Sebelumnya Kepala Dinas Penerangan TNI AU (KadispenAU), Marsma TNI Jemi Trisonjaya menyatakan, KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto telah memerintahkan Komandan Puspomau untuk melakukan proses penyelidikan terhadap kasus tewasnya Praka Yudha Prihantoro.


Semuanya bermula dari tiga perwira remaja Paskhas, Lettu MP, Letda AJ dan Letda IH yang mendapat perintah dari atasannya, Kapten pas NP selaku Pjs Pasiops untuk membina Praka Yudha yang terlibat masalah utang piutang. Praka Yudha kemudian dikurung di kamar mandi oleh juniornya kemudian diduga bunuh diri. (cr1/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore