JawaPos.com - Jamaah Islamiyah (JI) telah menyatakan membubarkan diri dan kembali ke NKRI. Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi pemerintah maupun warga, pasalnya JI memiliki sepak terjang terorisme mengerikan di Indonesia.
Sejumlah bos berskala besar beberapa kali berhasil diledakan JI di Indonesia. Seperti, Bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, Bom Bali I dan II, Bom Malam Natal, hingga bom di Kedutaan Australia Jakarta.
JI sendiri diperkirakan sudah beroperasi di Indonesia sejak 1993. Pimpinan JI, Abu Bakar Baasyir bahkan langganan bolak balik masuk penjara terhitung sejak era pemerintahan Presiden Soeharto.
JI dikenal sebagai organisasi militan Islam di Asia Tenggara yang berupaya mendirikan sebuah negara Islam raksasa. Simpatisannya diperkirakan tersebar di Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand dan Filipina.
Sejumlah nama-nama tenar mengisi kepemimpinan JI. Seperti Azahari Husin alias Dr. Azahari alias Alan alias Adam, Noordin Mohammad Top alias Noordin M. Top, Imam Samudera, Amrozi, Ali Gufron alias Mukhlas, Dulmatin, Umar Patek, Zulkarnaen, Edi Setiono, Abdul Jabar, Husaib, Musa alias Zulkili Marzuki, hingga Riduan Isamuddin alias Hambali.
Berkut 5 aksi teror terbesar yang pernah dilakukan oleh JI:
1. Bom JW Marriott
Pengeboman Hotel JW Marriott pertama terjadi pada 2003. Ledakan terjadi di JW Mariott kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada Selasa, 5 Agustus 2003 pukul 12:45 dan 12:55 WIB. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani.
Ledakan bom di JW Marriott dipicu melalui sebuah telepon seluler yang ditemukan di TKP. Ledakan tersebut menewaskan 12 orang dan melukai 150 orang.
Dalang dari aksi ini adalah Dr. Azahari dan Noordin M. Top. Kemudian Asmar Latin Sani sebagai pelaku bom bunuh diri dan 8 orang lainnya terlibat dalam peran berbeda.
Setelah ledakan tersebut, Australia mengeluarkan peringatan bagi warganya untuk menghindari semua hotel internasional di Jakarta setelah intelijen menemukan ibu kota itu berada di bawah ancaman serangan lebih lanjut.
Tak cukup sekali, pada 17 Juli 2009 sekitar pukul 07:47 sampai 07:57 WIB, JI kembali meledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Peristiwa bom bunuh diri tersebut menewaskan 9 orang dan melukai lebih dari 50 orang lainnya, baik warga Indonesia maupun warga asing.
Selain dua bom rakitan berdaya ledak rendah yang meledak tersebut, sebuah bom serupa yang tidak meledak ditemukan di kamar 1808 Hotel JW Marriott. Kamar itu sudah ditempati sejak dua hari sebelumnya oleh tamu hotel yang diduga sebagai pelaku pengeboman.
2. Bom Bali I
Bom Bali I adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat.
Tercatat 203 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera akibat peristiwa ini. Kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.
Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50–150 kilogram.
3. Bom Bali II
Bom kembali mengguncang Pulau Dewata pada 1 Oktober 2005. Peristiwa ini dikenal sebagai Bom Bali II. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.
Bom bunuh diri ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pariwisata di Bali mengingat pada 12 Oktober 2002 lalu terjadi serangan bom serupa dan menewaskan 202 orang. Pengeboman terjadi dalam tiga lokasi terpisah. Yakni Kafé Nyoman, Kafé Menega, Restoran R.AJA’s, Kuta Square.
Bukti awal menandakan bahwa serangan ini dilakukan oleh paling tidak tiga pengebom bunuh diri dalam model yang mirip dengan pengeboman tahun 2002. Serpihan ransel dan badan yang hancur berlebihan dianggap sebagai bukti pengeboman bunuh diri. Namun ada juga kemungkinan ransel-ransel tersebut disembunyikan di dalam restoran sebelum diledakkan.
4. Bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta
Pengeboman Kedubes Australia 2004 atau yang biasanya disebut Bom Kuningan terjadi pada tanggal 9 September 2004 di Jakarta. Ini merupakan aksi terorisme besar ketiga yang ditujukan terhadap Australia di Indonesia setelah Bom Bali 2002 dan Pengeboman Hotel Marriott 2003.
Sebuah bom mobil meledak di depan Kedutaan Besar Australia pada pukul 10.30 WIB. Jumlah korban jiwa tidak begitu jelas - pihak Indonesia berhasil mengidentifikasi 9 orang namun pihak Australia menyebut angka 11.
Di antara korban yang meninggal adalah satpam-satpam Kedubes, pemohon visa, staf Kedubes serta warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat bom tersebut meledak. Tidak ada warga Australia yang meninggal dalam kejadian ini. Beberapa bangunan-bangunan di sekitar tempat kejadian juga mengalami kerusakan.
5. Bom Natal
Pada malam Natal 24 Desember 2000 menjadi waktu kelam bagi umat kristiani di indonesia. Saat itu terjadi serentetan serangan bom di sejumlah gereja di Indonesia. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiyah, termasuk di antaranya para pelaku yang kemudian melakukan aksi Bom Bali 2002.
Untuk di Jakarta pengeboman terjaid di Gereja Katedral Jakarta, Gereja Mayor Jakarta, Sekolah Kolese Kanisius Menteng, Gereja Santo Yoseph, Matraman, Gereja Koinonia Jatinegara, Gereja Oikumene Halim, dan Gereja Condet.