
Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean.
JawaPos.com - Dewan Pengawas (Dewas) KPK menjatuhkan sanksi pelanggaran etik berat kepada tiga ”petinggi” biang pungutan liar (pungli) di Rutan KPK. Mereka diminta untuk meminta maaf secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab moral melakukan perbuatan itu.
Para bos yang disidang di kloter terakhir itu eks Plt Kepala Cabang Rutan Ristanta, Koordinator Keamanan dan Ketertiban Rutan Sophian Hadi, serta Kepala (nonaktif) Rutan KPK Achmad Fauzi. Ketiganya tak menghadiri sidang putusan yang diselenggarakan Dewas KPK di gedung ACLC KPK lantaran kompak sakit berdasar surat keterangan dokter.
”Menjatuhkan sanksi kepada para terperiksa berupa permintaan maaf langsung dan terbuka,” ucap Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean di Jakarta kemarin (27/3).
Dewas juga memberikan rekomendasi agar ketiganya dikenai sanksi disiplin kepegawaian oleh KPK.
Ristanta, Sophian, dan Fauzi terbukti telah melanggar Pasal 4 ayat 2 huruf B Peraturan Dewan Pengawas Nomor 3 Tahun 2021. Mereka dinyatakan melanggar etik lantaran melakukan perbuatan penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki. Termasuk menyalahgunakan pengaruh dalam pelaksana tugas maupun kepentingan pribadi dan/atau golongan.
Anggota Dewas KPK Albertina Ho mengatakan, selama permeriksaan, Sophian mengaku telah menerima duit Rp 70 juta dalam praktik pungli tersebut. Sementara itu, Ristanta mengakui telah menerima uang Rp 30 juta. ”Tapi, dari pengakuan para saksi lainnya, keduanya menerima lebih dari itu,” paparnya.
Untuk Achmad Fauzi yang menjabat sebagai kepala Rutan KPK, dewas memang belum menemukan bukti adanya aliran duit ke rekening yang bersangkutan. Namun, Fauzi dianggap telah membiarkan praktik tersebut berlangsung dan memakluminya.
Saat ini KPK telah menahan ketiganya di Rutan Polda Metro Jaya bersama 12 pegawai lainnya yang sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus pungli rutan. Dalam kasus tersebut, total ada 93 orang yang diduga terlibat dalam pungli yang bernilai hingga Rp 6,3 miliar itu. Duit tersebut terkumpul selama 2019–2023 dari para koruptor yang ditahan di tiga rutan milik KPK.
Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri mengatakan, saat ini KPK terus melakukan pengusutan secara paralel dalam perkara itu. Sanksi etik telah diselesaikan dewas. KPK kini berupaya untuk menuntaskan sanksi disiplin pegawai dan pidana untuk mereka yang terlibat. ”Sudah ada 50 saksi yang dimintai keterangan dalam perkara ini. Termasuk mereka, para narapidana,” terangnya. (elo/c19/ttg)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
