JawaPos Radar

Kisah Pak Eko, Polisi yang Viral (2)

6 Kali Daftar Bintara, Pak Eko Pernah Jadi Kuli dan Cleaning Service

29/08/2018, 11:47 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
6 Kali Daftar Bintara, Pak Eko Pernah Jadi Kuli dan Cleaning Service
Eko Hari Cahyono atau yang populer dengan nama Pak Eko menunjukkan berbagai benda yang biasa dia lempat ke balok kayu. (DIDA TENOLA/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com – Jalan hidup Pak Eko, polisi yang viral karena ketangkasannya melempar benda tajam tidaklah mudah. Saat ini, bisa dibilang Pak Eko sudah sukses. Sudah jadi perwira dengan menyandang tiga balok di pundak. Siapa yang menyangka, sebelum viral seperti sekarang, perjuangan Eko sebagai polisi diraihnya dengan peluh.

Sosok polisi yang memiliki gelar dan nama lengkap AKP Eko Hari Cahyono ini memang begitu humble. Saat ditemui JawaPos.com di Pusdik Sabhara Polri, di Porong, Sidoarjo, Eko banyak tersenyum. Ditanya soal kisah hidupnya hingga menjadi seorang korps Bhayangkara, Eko malah tertawa lebar. ”Saya ini beruntung. Enam kali daftar bintara baru keterima,” cerita Eko.

Pikiran Eko menerawang jauh ke masa lampau. Awalnya tidak mudah untuk menggapai cita-citanya sebagai polisi. Sejak kecil, dia memang bercita-cita menjadi polisi. Impian itu tidak terlepas dari peran sang ayah yang juga berprofesi sebagai polisi. ”Ayah saya terakhir dinas di Magetan. Sekeluarga, cuma saya yang mengikuti jejak beliau,” ujar sulung dari enam bersaudara tersebut.

Pak Eko menunjukkan kemampuannya kepada Jawa Pos untuk melempar berbagai benda tajam (DIDA TENOLA/JAWA POS)

Sebagai anak pertama, Eko sadar bahwa dirinya menjadi salah satu tumpuan bagi adik-adiknya. Oleh sebab itu, dia selalu bekerja keras. Berusaha mewujudkan impiannya.

Namun untuk menggapai mimpinya, Eko harus menemui jalan terjal. Berulang kali seleksi digelar, Eko selalu gagal. Sembari menggantung cita-citanya, Eko tetap berjuang untuk hidup. ”Nguli sampek dadi cleaning service tau tak lakoni mas (Kuli sampai jadi cleaning service pernah saya jalani, Mas),” tutur polisi asal Ponorogo tersebut.

Eko sejatinya tidak berjodoh dengan Jawa Timur. Dia tidak pernah lolos seleksi polisi di Jawa Timur. Dia nyaris patah arang. Jika ada kemauan dan kerja keras, selama apa pun hasilnya, Tuhan pasti akan memberikan jawaban. Prinsip itu terus dipegang oleh Eko.

Hingga akhirnya, saat batasan akhir usia sebagai syarat administrasi pendaftaran polisi, Tuhan mengabulkan doa-doa Eko. Dia diterima jadi polisi pada usia 25 tahun. ”Diterimanya justru di Kalimantan. Di Banjarmasin,” kata Eko.

Tentunya rasa lega bercampur syukur dirasakan Eko. Dia bisa membanggakan keluarga, sekaligus melanjutkan profesi sang ayah. Setelah menjadi polisi, Eko ditempatkan di Pusdik Sabhara Polri, Porong. ”Tahun 1990 jadi polisi, dari awal dinas sampai sekarang, ya di sini terus,” terangnya.

Rupanya tantangan dalam hidupnya itu bukan sekadar sampai pada pendaftaran bintara. Saat mendaftar sekolah perwira, Eko melaluinya dengan tidak mudah. Dia mengaku sampai empat kali mendaftar hingga akhirnya lolos.

Dia mengambil hikmah dari setiap proses yang dilalui. Kegagalan yang membuatnya terus berjuang. Tanpa gagal, Eko mungkin akan berleha-leha. Bisa jadi Eko tidak akan seperti sekarang. Garis takdir Tuhan tidak ada yang bisa menebak, termasuk Eko sendiri.

Di Pusdik Sabhara Polri itu pula, Eko bertemu dengan belahan jiwanya. Istrinya, Ipda Isro’iyah, adalah teman satu lettingnya yang kini berdinas di Mapolsek Porong.

Bisa jadi tanpa kerja kerasnya, orang tidak akan mengenal Eko. Netizen seluruh Indonesia, mungkin saja juga tidak akan mendengar jargon 'Masoook Pak Eko!'. ”Apa yang sudah saya lalui semua, membuat saya lebih bersyukur. Proses yang saya dapat nggak gampang, kuncinya tidak mudah menyerah,” sebut Eko.

(did/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up