
Pasien BPJS sedang antre di RS dr Soetomo Surabaya.
JawaPos.com - Mendapat layanan kesehatan rawat jalan di beberapa rumah sakit pemerintah harus bermodal ekstrasabar. Mengantre 5 sampai 7 jam untuk dilayani dokter sudah biasa dilakukan para pasien. Tak mau memanfaatkan sistem baru.
AZAN Subuh belum terdengar Senin lalu (11/2). Namun, kesibukan sudah begitu terasa di depan gedung Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RSUD dr Soetomo. Di sana para calon pasien itu harus bersabar mengantre untuk memperoleh nomor antrean kecil di instalasi RS milik Pemprov Jawa Timur (Jatim) itu.
Mereka berdiri berbanjar dan mengular. Sebab, bila datang setelah matahari terbit, bersiaplah mendapat nomor antrean besar. Dampaknya, mereka harus bersiap-siap menunggu sangat-sangat lama untuk mendapat pelayanan dokter.
Pagi itu, saat jarum jam menunjuk pukul 04.00, dua petugas satpol PP datang dari dalam salah satu ruangan. Mereka membuka kunci pintu. Layaknya ada pemimpin yang menginstruksi, serentak para pangantre berdiri. Map plastik atau kertas yang sejak tadi diletakkan dekat mereka diraih dan dijinjing para pengantre. Isinya berupa berkas-berkas persyaratan pemeriksaan di RS. Di antaranya, surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), fotokopi KTP, dan kartu BPJS Kesehatan.
Terlihat seorang pengantre yang sebelumnya tidak berada di dalam barisan. Dia tergopoh-gopoh menyusup ke dalam barisan. Dia adalah pengantre yang sebelumnya menitipkan tempat kepada orang di depan atau di belakangnya. Agar bisa ditinggal sebentar ke luar barisan. Mungkin sekadar ke toilet atau membeli makanan kecil.
Pada pagi buta itu, satu per satu pengantre mengeluarkan surat rujukan dari map. Menunjukkannya kepada dua petugas satpol PP. Lalu, petugas-petugas tersebut mengeceknya dan di akhir mereka memberikan nomor antre yang keluar setelah memencet layar komputer di mesin anjungan.
Sebagian pengantre yang sudah mendapat nomor bergegas pulang. Ada juga yang lantas duduk di deretan kursi di dalam gedung tersebut. Sementara itu, barisan antre tetap bergerak maju.
Keributan terjadi. Ada salah seorang calon pasien pria yang berteriak-teriak kepada satpol PP. Laki-laki itu tak mengetahui bahwa mengambil nomor antre BPJS harus menunjukkan surat rujukan dari FKTP. Dia mengelak, bahwa biasanya, saat mengantre, dia tak pernah dimintai surat rujukan. "Bapak tidak percaya kalau saya ini beneran pasien? Mbok pikir aku calo?" tanya dia dengan meninggikan suara.
Peristiwa itu sempat menghentikan laju antrean. Seorang petugas satpol PP meminta lelaki tersebut minggir. Lalu, dia mulai menjelaskan persyaratan mengambil nomor antre di IRJ. "Syarat untuk mengambil nomor antre saat pukul 04.00-06.00 harus menunjukkan surat rujukan. Kami sudah memberi tulisan di sana," kata petugas sambil menunjuk kertas yang ditempel di pintu masuk.
Dia buru-buru meninggalkan tempat itu. Para pengantre lain mulai rasan-rasan. "Kami biasa antre juga syaratnya bawa rujukan, Pak," kata seorang calon pasien yang membincangkan peristiwa tersebut dengan calon pasien lainnya.
Langit pagi sudah mulai terang. Mentari mulai menampakkan diri. Antrean masih berjalan. Para pasien silih berganti mengambil nomor. Mereka yang jarak tempat tinggalnya jauh dari RS tak beranjak dari IRJ setelah kertas bertulisan angka itu didapat. Menantikan waktu yang bergulir, menunggu loket pendaftaran dibuka.
Seorang pasien yang menunggu itu adalah Warsini. Dia duduk di teras gedung IRJ. Bersandar pada tembok tangga parkir. Terkadang memperhatikan orang-orang yang berseliweran. Jaket yang membalut badannya menunjukkan bahwa dia enggan duduk di ruang tunggu IRJ. Maklum, semburan AC pagi itu begitu kencang.
Sudah sebulan ini dia wira-wiri ke RSUD dr Soetomo. Tiap hari dia menjalani radioterapi karena penyakit kanker serviks yang diidap. Penyakit tersebut membuatnya tidak bisa dirawat di RSUD Nganjuk, faskes di dekat tempat tinggalnya. Karena itu, dia dirujuk di rumah sakit rujukan terakhir.
Warsini mengatakan, selama menjalani radioterapi, dirinya boyongan ke Sidoarjo, ke tempat tinggal salah seorang anaknya. "Biar enggak jauh kalau mau periksa dan kontrol," kata perempuan 64 tahun itu.
Setiap hari Warsini diantar anaknya ke RSUD dr Soetomo. Anaknyalah yang mengantrekan nomor BPJS dan loket pendaftaran. Sebab, perempuan itu sudah tak kuat berdiri lama.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
