
ILUSTRASI: Fenomena golput di kalangan muda Indonesia tergolong masih cukup tinggi.
JawaPos.com – Fenomena golput di kalangan muda Indonesia tergolong masih cukup tinggi. Angkanya bahkan ditaksir melebihi 15 persen.
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU Dadang Darmawan mengatakan, Golput bukanlah pilihan di era demokrasi. Dari berbagai sumber yang dihimpun, angka golput memang cukup tinggi. Angkanya hingga melebihi 15 persen.
Pada Pileg 2009, jumlah golput mencapai 29,1 persen. Pada Pilpres tahun yang sama, jumlah pemilih yang tak menggunakan suaranya berjumlah 28,3 persen. Keberadaan golput berlanjut di Pileg 2014, dengan 24,89 persen pemilih masuk kategori ini.
Pada saat Pilpres 2014, angka golput mencapai titik tertinggi yakni 30 persen lebih dari jumlah pemilih. Menurut Dadang, angka golput yang tinggi mempunyai pengaruh besar terhadap kondisi perpolitikan di Indonesia.
"Golput sebenarnya adalah sebuah fakta sosial dalam melawan kekuasaan atau ekspresi protes terhadap pemerintah. Apalagi sejak 73 tahun demokrasi berlangsung di Indonesia, gerakan tersebut tak membuat perubahan apapun terhadap bangsa dan negara," ungkap Dadang yang juga calon anggota DPD RI itu, Minggu (23/12).
Para pemilih yang golput seakan memberikan protes. Bahwa para calon yang ada diyakini belum bisa melakukan perbaikan. Sehingga bila akhirnya mereka yang terpilih duduk sebagai penguasa bukan orang yang tepat, maka dikhawatirkan berakibat pada penindasan.
"Pemimpin seharusnya adalah seorang yang paling bijaksana sehingga dapat menciptakan bangsa yang bermartabat, jika tidak maka yang terjadi adalah Penindasan," ujar aktifis reformasi itu.
Dia mengimbau, para generasi milenial untuk tidak skeptis terhadap politik. Karena generasi milenial punya peran besar. "Generasi milenial harus melek politik, ikut berpolitik dan ikut menentukan masa depan di negara kita hari ini dan ke depan," ungkap Mantan Ketua Umum Badko HMI Sumut itu.
Generasi milenial, menurut Dadang saat ini banyak yang anti politik. Mereka juga selektif dan kritis. "Golput tidak menjadi pilihan yang tepat dalam bernegara. Karena pasti tidak akan menghasilkan apapun dalam proses demokrasi dan pembangunan politik," pungkasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
