alexametrics

Iklim Investasi di Medan Memburuk Sejak 2016, Begini Kata Ekonom

21 November 2020, 14:25:06 WIB

JawaPos.com – Pemimpin Kota Medan memiliki pekerjaan rumah (PR) cukup besar pada lima tahun mendatang. Siapa pun wali kota dan wakil wali kotanya, mereka harus bisa mendatangkan para investor ke ibu kota Sumatera Utara (Sumut) itu.

Menurut Ekonom Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Pratomo, menjelaskan situasi investasi di Kota Medan sejak 2016. Hampir lima tahun para pemodal semakin enggan masuk ke Medan untuk mengembangkan usaha.

Wahyu menilai kota yang selama lima tahun terakhir dipimpin Dzulmi Eldin-Akhyar Nasution tergolong tidak ramah terhadap iklim investasi. Incremental capital-output ratio (ICOR) menjadi tolok ukurnya.

Secara sederhana, ICOR adalah indikator yang menunjukkan besaran modal untuk menghasilkan satu output. Misal ICOR=5, maka perlu Rp 5 juta untuk 1 output/barang. Kalau ICOR=7, itu artinya perlu investasi Rp 7 juta untuk satu output. Makin besar ICOR, maka semakin tidak efisien.

“Makin tinggi ICOR satu kota, maka pengusaha akan keluar lebih banyak modal untuk jajaki sebuah usaha. Investasi itu kan adalah jumlah uang yang dibelanjakan oleh pengusaha,” kata Wahyu kepada wartawan di Medan, Sabtu (21/11).

Berdasar data 2019, ICOR kota Medan sudah mencapai 7,2. Dibandingkan dengan kota lainnya, seperti Bandung (5,0), Surabaya (5,1); dan Makasar (6,0).

“Dan, kota-kota lain itu cenderung turun ICOR-nya. Artinya, pemerintah masing-masing sudah semakin baik mengelola kotanya,” tambah Wahyu.

Baca juga: Investor Soroti Debat Pilpres AS, Harga Emas Dunia Terbebani

Ironisnya, imbuh Wahyu, di Medan indeks ICOR malah semakin tinggi. “Medan tahun 2016 itu sekitar 6,50 dan terus naik sampai 2019. Harusnya yang ideal itu di angka 4.0 hingga 5,0,” lanjut Wahyu.

Dia menjelaskan langkah untuk menurunkan indeks ICOR agar investor mau berinvestasi di Kota Medan. “Cara menurunkan ICOR itu sudah banyak dilakukan oleh pemerintah daerah lain. Misalnya mempermudah perizinan, tidak ada lagi biaya-biaya pungli, sarana-prasarana yang diperlukan pelaku usaha terpenuhi,” kata Wahyu.

“Mal perizinan, atau mal pelayanan publik yang bakal dibangun Bobby Nasution salah satunya untuk mengurangi biaya perizinan kan?” lanjut Wahyu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra



Close Ads