JawaPos Radar

Polisi Temukan Bukti Pencemaran Air PDAM di Solo yang Berwarna Merah

20/10/2018, 13:24 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Polisi Temukan Bukti Pencemaran Air PDAM di Solo yang Berwarna Merah
Air di saluran Bulakrejo, Sukoharjo ini berubah menjadi merah sejak tiga hari terakhir. (Ryanto P.S/Radar Solo)
Share this

JawaPos.com - Sejak awal warga Banyuanyar, Banjarsari, Solo, meyakini air PDAM berubah warna menjadi merah itu karena tercemar. Keyakinan warga tersebut ternyata sejalan dengan penyelidikan pihak kepolisian. Polda Jawa Tengah menemukan bukti kuat adanya pencemaran.

PT Mahkota Citra Lestari (MCL)-lah yang menjadi tertuduh. Kabidhumas Polda Jateng Kombespol Agus Triatmaja menyebutkan, di lapangan polisi mendapati PT MCL telah membuang limbah sisa pencucian alat produksi ke saluran PDAM. Polisi juga memperoleh fakta, perusahaan tersebut tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan izin lingkungan.

"Sejumlah pihak telah kami mintai keterangan. Gelar perkara sudah kami lakukan. Sabtu besok (hari ini, Red) dilakukan rekonstruksi," ujar Agus kepada Jawa Pos Radar Solo.

Polisi Temukan Bukti Pencemaran Air PDAM di Solo yang Berwarna Merah
Air PDAM yang keluar di rumah warga di Banyuanyar, Banjarsari, Solo, berwarna merah (Ryanto P.S/Radar Solo)

Dia menambahkan, ada enam saksi yang diperiksa. Empat di antaranya berasal dari PT MCL. Dari keterangan merekalah, polisi mendapati bukti kuat adanya pencemaran. "Kami juga mengamankan beberapa barang bukti," kata Agus.

Beberapa hari terakhir, warga di Banyuanyar memang mengeluhkan air PDAM yang mengalir ke rumah mereka. Air tersebut tidak bisa dimanfaatkan lantaran warnanya merah darah. Bukan bening seperti biasanya.

Keluhan itu langsung direspons PDAM Solo. Mereka terjun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Keluhan warga tersebut juga disampaikan ke kepolisian dan dinas lingkungan hidup. PDAM meyakini perubahan warna tersebut terjadi karena pencemaran.

"Jika pompa mereka tidak jalan, air PDAM masuk ke sana. Tapi, jika pompanya jalan, limbahnya masuk saluran pipa PDAM," ujar Kepala Cabang PDAM Solo Sarwono.

Menjadi tertuduh, PT MCL berusaha membela diri. Pengelola PT MCL Lesi mengklaim bahwa pabriknya tidak setiap hari membuat bahan pewarna. Bahkan, terkadang dalam sebulan, pihaknya tidak sekali pun berproduksi. Sebab, bahan pewarna dibuat sesuai permintaan konsumen.

Lesi juga menyebutkan, selama ini limbah produksi bahan pewarna dialirkan ke tangki pembuangan. "Tapi, karena baru pindah ke sini dan belum ada saluran pengolahan, untuk sementara limbah dialirkan ke selokan. Kami juga tidak tahu saluran pipa PDAM itu di sebelah mana," ujar Lesi.

Kasus air berubah warna tersebut ternyata juga terjadi di Sukoharjo dan Wonogiri. Air drainase di Bulakrejo, Sukoharjo, mendadak menjadi merah darah. Adapun di Sendang Beton, Wonogiri, warna airnya berubah menjadi hijau.

Namun, warna merah di Sukoharjo itu bukan disebabkan limbah pabrik, melainkan bekas cat. Menurut Maryanto, seorang pedagang kubah masjid di dekat drainase yang tercemar tersebut, warna air berubah merah itu sejak tiga hari terakhir. Penyebabnya, dia sengaja menguras drum berisi sisa cat dan membuangnya ke saluran air tersebut. Karena saluran itu sedang diperbaiki, akhirnya airnya menggenang. "Jadi, itu bukan dari limbah pabrik," dalihnya.

Sementara itu, warna hijau di Sendang Beton disebut Camat Pracimantoro, Wonogiri, Warsito karena kesengajaan. Ada penelitian untuk mengetahui arah aliran air dari Sendang Beton. Penelitian tersebut dilakukan mahasiswa dari sebuah kampus di Jogjakarta. "Bahan pewarnanya tidak berbahaya, tidak seperti limbah," terang Warsito.

Kasus pencemaran air PDAM di Solo menjadi momentum evaluasi pengelolaan limbah industri di kota tersebut. Pemkot Solo ingin menata kembali pengolahan limbah. Terutama limbah dari industri kecil dan menengah yang tersebar hampir di seluruh wilayah Solo.

Dinas Lingkungan Hidup Solo kini menggagas pembangunan saluran limbah di bawah jalan. Hal itu bisa menjadi salah satu siasat agar limbah industri kecil di lingkungan padat teratasi. Mobil pengolahan limbah keliling juga menjadi alternatif lain penanganan limbah.

"Jadi nanti bisa keliling pengelolaan limbah secara bergantian," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Solo Sri Wardhani Purbowidjojo. 

(ves/irw/bun/JPG/c7/fim)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up