
Ilustrasi
JawaPos.com - Musim hujan yang terjadi lebih dari sepekan ini membuat kondisi air di Blok Maroko, Waduk Saguling, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, menjadi kurang baik. Dampaknya, sebanyak satu ton ikan mas dan nila mati.
Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat, Chandra Suwarna menjelaskan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh faktor cuaca dan juga tanaman eceng gondok.
”Betul, ada satu ton ikan tawar mati di Waduk Saguling. Faktor kematian ikan ini, akibat cuaca saja bukan penyakit. Hujan yang terus turun membuat tidak ada matahari, sehingga oksigen dalam air rendah dan mengakibatkan ikan mati,” kata Chandra saat dihubungi oleh wartawan belum lama ini.
Chandra menyebutkan, selain faktor cuaca, hal lainnya yang berpengaruh terhadap kondisi ikan yakni dengan banyaknya eceng gondok atau gulma. Gulma ini muncul dengan cepat yang membuat produksi ikan terganggu.
”Makanya dari pembudidaya ikan di Saguling juga sering malakukan pembersihan gulma ini. Agar menghindari lebih banyak lagi ikan mati,” ungkapnya.
Saat ini, menurut Chandra, di Waduk Saguling jumlah kolam jaring apung (KJA) mencapai 7.200 petak kolam dengan jumlah pemilik sebanyak 680 orang. Produksi ikan nila dan mas di Saguling mencapai 10 ton/hari. Angka ini masih kecil jika dibandingkan dengan produksi ikan di Waduk Cirata.
”Ikan yang mati kemarin itu, belum berpengaruh banyak. Karena memang produksi ikan yang lebih banyak itu berada di Blok Bongas Kecamatan Cililin,” ujarnya.
Untuk mencegah terjadinya ikan mati yang makin meluas, kata dia, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada pembudidaya ikan dengan mengurangi tebar benih di Waduk Saguling.
”Biasanya tebar benih itu mencapai 60 kilogram (6.000 ekor ikan), kita imbau agar dikurangi menjadi 30 kilogram (3.000 ekor ikan) saja, lalu juga soal pemberian pakan agar dikurangi. Yang lebih penting pilih ikan yang lebih kuat bertahan seperti ikan patin ketimbang ikan mas,” imbaunya.
Lebih jauh Chandra menjelaskan, pihaknya juga sudah memilik alat untuk mendeteksi kualitas air di Waduk Saguling dan Cirata bernama alat bouwaypluto. Namun, lantaran tengah mengalami gangguan, alat tersebut sementara tidak bisa digunakan.
”Kita punya alat untuk mendeteksi kualitas air itu berjumlah empat alat yang diberikan dari pemerintah pusat. Namun, saat ini belum bisa beroperasi karena tengah mengalami gangguan. Alat itu menggunakan satelit,” ungkapnya.
Disinggung soal kondisi di Waduk Cirata saat ini, diakuinya kualitas air masih normal dan produksi ikan belum terganggu seperti yang terjadi di Waduk Saguling. Waduk Cirata mampu memproduksi ikan hingga 70 ton per hari. Luas Waduk Cirata yang meliputi KBB, Purwakarta, dan Cianjur yaitu 6.200 hektare. Di KBB, luasnya 2.500 hektare.
”Sebanyak 31.000 kolam jaring apung (KJA) berdiri di Waduk Cirata yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat. Jumlah tersebut melebihi kapasitas yang sudah ditentukan yakni 3.800 KJA di waduk Cirata,” pungkasnya. (pj/bie/yuz/JPG)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
