
KEKURANGAN SDM: Partisipasi warga Malang di Bank Sampah Malang (BSM) masih minim.
JawaPos.com – Partisipasi masyarakat Malang terkait program Bank Sampah Malang (BSM) diketahui masih minim. Sejauh ini, tercatat hanya 10 persen dari total warga Malang yang bergabung dengan program pelestarian lingkungan tersebut.
Padahal, program BSM sendiri termasuk salah satu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk mengurangi masalah sampah perkotaan sekaligus bisa menghasilkan nilai ekonomi dari sampah itu sendiri.
Kepala Bidang Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Rahmat Hidayat mengatakan, warga yang tergabung dalam Bank Sampah kini baru 10 persen dari total warga Kota Malang. Sementara, nasabah bank sampah yang sudah tercatat saat ini sebanyak 30 ribu, dimana 80 persennya merupakan warga Kota Malang.
"Sebanyak 20 persen lainnya warga Kabupaten Malang dan Kota Batu," ujar pria yang juga menjadi penasehat BSM ini, Jumat (13/4).
Dia menerangkan, dari 30 ribu nasabah tersebut, rinciannya terdiri dari 581 unit milik masyarakat, 260 unit bank sampah sekolah, 80 unit bank sampah milik instansi, 25 orang pemulung, serta 1.422 nasabah individu. "Setiap hari kami mengolah 5 ton sampah dari nasabah," ungkap Rahmat.
Selama ini, lanjut dia, kendala BSM yakni terkait tenaga atau Sumber Daya Masyarakat (SDM) dan fasilitas seperti alat angkut sampah dan gudang sampah. Apalagi BSM kini masih berbadan hukum koperasi atau swasta. Sehingga pengelolaannya secara mandiri.
"Secara hitungan ekonomi kami merugi, karena BSM harus banyak mengeluarkan biaya operasional untuk mengangkut sampah dengan armada yang terbatas," ujarnya. Oleh karena itu, tidak heran jika pihaknya saat ini sangat membutuhkan karyawan lebih untuk mengelola bank sampah yang telah berdiri sejak tahun 2011 lalu itu.
"Masyarakat punya peran besar dalam bank sampah. Jika masyarakat punya rasa memiliki terhadap bank sampah, harapannya program ini berkelanjutan. Karena bank sampah ini cikal bakal masyarakat bisa peduli terhadap lingkungan," tutur Rahmat.
Di Bank Sampah yang berlokasi di Jalan S Supriyadi No 38 A, Sukun, Kota Malang itu, pihaknya juga memberikan pengetahuan tentang bagaimana memilah sampah yang baik dan dapat menghasilkan nilai ekonomi.
"Kami terus memberikan pengetahuan pada masyarakat tentang bagaimana memilah sampah. Sebab sampah punya nilai ekonomis jika sudah dipilah," imbuh Rahmat. Beberapa produknya pun sempat diikutkan dalam pameran dan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Seperti tas hingga baju.
Untuk itu, saat ini DLH Kota Malang masih melakukan kajian tentang bagaimana menjadikan BSM sebagai bagian dari pemerintah. Sehingga nantinya BSM bisa dibentuk menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) di masing-masing kecamatan.
"Target kami setiap kecamatan ada cabang bank sampah. Selama ini kendalanya keterbatasan tenaga dan gudang sampah. Jika di masing-masing kecamatan ada cabangnya, maka pengelolaan bank sampah lebih efisien," tandasnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
