JawaPos Radar

Anak Janda Penjual Sandal Jepit Ini Diterima di UGM

12/07/2018, 09:05 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Sandal Jepit
MAHASISWA: Suciani, janda penjual sandal jepit bersyukur anaknya diterima di UGM (dok. Humas UGM Yogyakarta)
Share this

JawaPos.com - Memiliki anak-anak yang penurut dan selalu mengerti akan keadaan orang tua, sangat disyukuri oleh Komang Suciani, 48, yang tinggal di rumah tumpangan saudaranya di Jalan Gandapura IV, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur. Apalagi, kedua anak laki-lakinya selalu tekun dan rajin dalam belajar sehingga berprestasi di kelas.

Suciani merupakan seorang penjual sandal. Ia menjalani profesinya ini sejak 6 tahun lalu, selepas ia berpisah dengan suaminya.

Hampir setiap hari dirinya membeli sandal-sandal di toko grosir. Suciani bawa pulang untuk kemudian ditempeli pernak-pernik menyerupai bunga anggrek dari bahan karet sehingga mirip dengan aslinya.

Sandal itu pun tampak lebih indah, yang kemudian ia kemas kembali memakai kantong. Untuk kemudian dititipkan ke toko suvenir di Bali.

Untuk sepasang sandal jepit ia jual dengan harga Rp 5 ribu. Sedangkan modalnya untuk membeli sandal tersebut seharga Rp 3.500. Berbeda dengan sandal yang bahannya lebih bagus lagi, ia beli dengan harga Rp 8 ribu lalu dijual seharga Rp 12 ribu. "Sebulan bisa menjual hingga 300 pasang sandal, tergantung ramai dan tidaknya pengunjung," katanya.

Suci pun baru bisa mendapatkan uang setelah dagangan titipannya tersebut laku dan terjual habis. Biasanya toko tempat ia biasa menitipkan sandal akan menginformasikan padanya. "Sekali pasok sekitar dua lusin," ucapnya.

Selain menjual sandal jepit, Suci juga menjual gelang yang terbuat dari kerang. Ia mengambil gelang tersebut dari pengrajin yang selanjutnya ia jual kembali ke toko yang kebetulan pemiliknya sudah dikenalnya.

Suciani memiliki 2 orang anak-anak laki-laki. Anak sulungnya tengah menempuh kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sementara bungsunya, Agoes Kevin Dwi Kesuma Parta, tahun ini diterima kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
 
Ketekunan belajar dengan selalu mendapatkan prestasi di kelas anak-anaknya itulah yang sedikit banyak membantu kelangsungan pendidikan mereka. Bantuan beasiswa yang didapatkan, menurut Suci, mampu meringankan bebannya sebagai orang tua tunggal.

Suciani maklum jika pekerjaannya sebagai penjual sandal jepit tidaklah seberapa untuk membiayai sekolah dan kuliah kedua anaknya. Meski begitu ia masih bisa mengirim uang saku bulanan untuk anak sulungnya. Apabila ia kesulitan keuangan, tidak segan-segan meminta bantuan sanak keluarga untuk meminjamkan uang.
 
Kevin, anak bungsunya berkat beasiswa pula ia diterima kuliah di UGM dengan beasiswa bidik misi. Ketika di sekolah, berprestasi di  perlombaan baca puisi dan pencak silat.

Kevin sendiri mengaku senang akhirnya bisa diterima di Fakultas Hukum yang selama ini menjadi cita-cita sejak di bangku sekolah. Menurutnya dengan masuk di jurusan itu, bisa mendukung aktivitasnya yang sekarang aktif di organisasi kepemudaan di Bali.

"Kebetulan sekarang saya ditunjung sebagai fasilitator forum anak nasional dan ketua forum anak bali," katanya.

Kesukaannya pada organisasi itu juga mengantarkannya mendapat penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan mendapat pengharagaan nasional untuk lomba pemilihan Tunas Muda Pemimpin Indonesia pada 2017 lalu. "Saya dapat piagam dari Bu Menteri, laptop, dan uang saku 2,5 juta," pungkasnya.

(dho/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up