Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 April 2026 | 04.13 WIB

Kenapa Indonesia Panas Banget Belakang Ini? BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terik April 2026

Ilustrasi cuaca panas. (Antara) - Image

Ilustrasi cuaca panas. (Antara)

JawaPos.com - Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini mengeluhkan cuaca yang terasa jauh lebih panas dari biasanya. Sengatan matahari yang menyengat membuat aktivitas di luar ruangan menjadi tantangan tersendiri.

Apakah ini pertanda gelombang panas atau dampak perubahan cuaca ekstrem? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya buka suara mengenai fenomena ini.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, kondisi ini memang sedang terjadi secara merata di banyak titik di Indonesia.

Menurut catatan BMKG, suhu udara di sejumlah wilayah bahkan menyentuh angka di atas 35 derajat Celcius. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, Suhu maksimum harian signifikan tercatat di wilayah Kalimantan Barat (37.0°C), Sumatra Utara (36.3°C), Sulawesi Tengah (36.2°C), Banten (36.0°C), Kalimantan Tengah (36.0°C), Bengkulu (35.8°C), Lampung (35.5°C), dan Kalimantan Selatan (35.3 °C).

"Dalam beberapa hari terakhir hingga pertengahan April tahun 2026 ini, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kondisi cuaca cerah dengan suhu udara yang cukup terik terutama pada siang hari," ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (28/4).

Mengapa Cuaca Terasa Begitu Menyengat?

Cuaca panas yang ekstrem ini bukanlah sebuah kebetulan. Ada beberapa faktor meteorologis yang bekerja secara bersamaan sehingga menyebabkan radiasi matahari terasa lebih tajam di permukaan bumi.

"Kondisi suhu panas dan terik pada siang hari tersebut secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor secara tidak langsung, di antaranya posisi semu matahari di periode april ini berada di sekitar lintang khatulistiwa bagian utara yang menandakan intensitas sinar matahari cukup intensif di wilayah Indonesia," terangnya.

Selain itu, langit yang cenderung bersih tanpa awan dari pagi hingga siang hari membuat panas matahari mencapai permukaan bumi tanpa penghalang.

"Serta adanya dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat kering turut memicu kurangnya pembentukan awan di wilayah selatan khatulistiwa, sehingga penyinaran permukaan bumi menjadi sangat intensif," sambungnya.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore