
Sekda DKI Jakarta Marullah Matali memberikan keterangan usai pelantikan di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat (8/11/2024). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pemprov DKI Jakarta memangkas rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2026 sebesar Rp14,97 triliun. Pemangkasan itu dilakukan menyusul turunnya alokasi Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.
Awalnya, RAPBD 2026 DKI disusun sebesar Rp95,35 triliun. Namun, setelah adanya surat resmi dari Kementerian Keuangan pada 23 September 2025 yang menetapkan penurunan TKD, nilai anggaran direvisi menjadi Rp 81,29 triliun.
"Penurunan transfer ini cukup signifikan, terutama pada Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK)," ujar Sekretaris Daerah DKI Jakarta Marullah Matali.
Marullah menyebutkan, Pemprov langsung melakukan reposturing RAPBD guna menyesuaikan dengan arahan fiskal pusat dan menjaga keberlangsungan program prioritas.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta Michael Rolandi menambahkan, pemangkasan itu bersifat penyesuaian internal dan belum mengubah angka resmi RAPBD 2026 yang telah disepakati sebelumnya.
"Nilai postur yang dihasilkan dari proses penyesuaian sementara adalah Rp 81,29 triliun. Ini yang menjadi bahan kerja bersama DPRD DKI," katanya.
Dari sisi belanja, sejumlah efisiensi dilakukan. Di antaranya, belanja pegawai dipangkas Rp695,7 miliar, belanja barang dan jasa turun Rp4,1 triliun, serta belanja subsidi dan bansos masing-masing turun Rp828 miliar dan Rp166 miliar. Meski begitu, Michael menegaskan bahwa anggaran wajib tetap dijaga. “Belanja pendidikan masih 26,29 persen, kesehatan di atas 20 persen, dan belanja infrastruktur 41,79 persen,” ujarnya. Ia juga memastikan tidak ada pengurangan gaji dan tunjangan kinerja ASN. Belanja pegawai juga disebutkannya masih dibawah batas maksimal 30 persen, yakni 27,2 persen.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Atikah Nur Rahmania menuturkan, penyesuaian ini merupakan konsekuensi dari dinamika fiskal nasional. Dia juga menyampaikan, penurunan TKD tidak hanya berdampak jangka pendek, namun bisa berlanjut hingga lima tahun ke depan.
"Dari sisi perencanaan, kami memandang penurunan TKD ini bukan sekadar peristiwa sementara, tetapi dinamika jangka panjang yang berpotensi berlanjut dalam lima tahun mendatang," jelasnya.
Oleh karena itu, mereka perlu menyesuaikan pendekatan perencanaan daerah melalui dua strategi utama. Yakni, perubahan perilaku belanja (spending behavior), agar lebih efisien dan terukur dan eksplorasi kapasitas fiskal baru (exploring new fiscal capacity), untuk menemukan sumber-sumber pembiayaan alternatif di luar APBD murni.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
