Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Juli 2025 | 13.19 WIB

Viral! Cuaca Depok dan Bekasi Serasa Puncak Bogor, BMKG sebut Dipengaruhi Hujan dan Kelembaban

Ilustrasi curah hujan yang tinggi. (Istimewa). - Image

Ilustrasi curah hujan yang tinggi. (Istimewa).

JawaPos.com – Media sosial tengah diramaikan dengan unggahan warga yang menyebut cuaca di Jakarta, Bekasi, dan Depok terasa lebih dingin dari biasanya. Bahkan disamakan dengan suasana sejuk ala Puncak Bogor. 

Banyak warganet mengaku heran, pagi hingga malam udara terasa dingin dan berkabut, padahal kawasan itu berada di dataran rendah.

Menanggapi fenomena ini, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto memberikan penjelasan lengkap soal cuaca sejuk dan berkabut yang terjadi di wilayah Jabodetabek pada Sabtu (29/6).

Ia memaparkan bahwa cuaca sejuk ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, meskipun kawasan Bekasi dan Depok tidak berada di dataran tinggi seperti Puncak Bogor.

"Kondisi cuaca saat ini Depok diperkirakan akan mengalami hujan pada sore hari dengan suhu sekitar 24-25°C dan kelembaban tinggi mencapai 92-96%. Anginnya relatif tenang dengan kecepatan 0-4 mph," ujarnya.

Lebih lanjut, Guswanto menjelaskan bahwa suhu dan kelembaban yang tinggi bisa menyebabkan sensasi dingin dan munculnya kabut, terutama saat pagi dan malam hari.

"Kawasan Puncak Bogor dikenal memiliki iklim yang lebih sejuk karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Namun, cuaca di Bekasi dan Depok yang berada di dataran rendah kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti hujan dan kelembaban tinggi," terangnya.

Ada tiga faktor utama yang disebut BMKG sebagai penyebab utama fenomena ini. Yakni, hujan yang membuat suhu turun drastis, kelembaban tinggi yang menimbulkan kabut dan sensasi udara dingin. 

"Dan pergerakan angin, meskipun lemah, turut membawa udara lembab dan sejuk ke wilayah tersebut," jelasnya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebelumnya menjelaskan, meskipun Indonesia telah memasuki periode musim kemarau, kondisi atmosfer yang masih labil menyebabkan sejumlah wilayah tetap berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat, disertai angin kencang dan petir.

Ia menjelaskan, musim kemarau tahun ini belum merata karena angin Monsun Australia, yang menjadi pendorong utama kemarau, masih relatif lemah. Selain itu, suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di selatan Indonesia turut memperkuat potensi pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan deras meski sudah memasuki musim kemarau.

“Seharusnya, pada periode Maret hingga Mei angin Monsun Australia sudah dominan membawa massa udara kering dari selatan. Namun tahun ini, kekuatannya tertahan, sehingga sistem atmosfer skala mingguan seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin masih aktif dan turut mendorong pembentukan awan-awan hujan,” ujar Dwikorita di Jakarta, Sabtu (28/6).

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore