
Anton Fadilah duduk di samping makam Tubagus Muhammad Atif. Peziarah kerap berdoa mengharapkan karamah.
Kawasan Serpong identik dengan BSD City, kota mandiri dengan sejumlah gedung pencakar langit dan hunian modern. Namun di salah satu sudut Serpong, ada Makam Keramat Tajug, tempat Tubagus Muhammad Atif, anak Sultan Ageng Tirtayasa, beristirahat selama-lamanya.
---
SAYUP-SAYUP suara orang berdoa terdengar dari sebuah bangunan berukuran sekitar 10 x 10 meter pada Jumat (3/11). Sang pemilik suara adalah Anton Fadilah, penjaga makam Tubagus Muhammad Atif. Dia memimpin doa karena ada tiga peziarah yang datang di bilik berisi makam Tubagus Muhammad Atif serta Ratu Ayu Siti Almmiah tersebut.
Setelah salat Jumat, kompleks Makam Keramat Tajug terlihat lebih ramai. Beberapa warga datang berziarah. Namun, kebanyakan berziarah di makam keluarga sendiri. Yang tersebar di seluruh sisi bukit. Untuk sampai di atas bukit, peziarah harus melewati jalan setapak yang agak menanjak. ’’Jadi, di sini sebenarnya makam umum juga. Khususnya untuk warga Kelurahan Cilenggang,’’ kata Anton.
Lokasi persis Makam Keramat Tajug berada di Jalan Raya Serpong, Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Dari puncak Makam Keramat Tajug terlihat jelas AEON Mall, salah satu pusat perbelanjaan yang populer di BSD City.
Anton menjadi penjaga makam atau juru kunci sejak 2002. Setiap hari ada saja peziarah yang datang. Biasanya paling ramai pada Kamis malam atau malam Jumat. Sekalian digelar malam tahlilan dan pembacaan surah Yasin. Pria 52 tahun itu mengatakan, setiap peziarah membawa doa masing-masing. Setiap peziarah yang berdoa di sana mengharap karamah .
’’Tubagus Muhammad Atif ini ulama besar. Waliyullah,’’ katanya. Sehingga dia meyakini hanya jasadnya yang wafat. Namun, tidak demikia jiwanya. Anton mengatakan, meskipun namanya makam keramat, bukan berarti banyak cerita horor atau mistis yang muncul. Dia menegaskan bahwa Tubagus Muhammad Atif itu anak Sultan, pengusir penjajah di kawasan Serpong serta tokoh penyebar agama Islam di sana.
Di antara kisah yang jadi legenda di sana adalah lahan pemakaman itu awalnya rata. Tidak berupa bukit setinggi 100 meter seperti sekarang ini. Ceritanya, ketika Atif wafat dan dikebumikan di sana pada 1721 silam, tanah tiba-tiba meninggi menjadi bukit seperti sekarang. Sampai akhirnya dikenal dengan sebutan Makam Keramat Tajug.
Dalam bahasa masyarakat setempat, Tajug itu artinya tiba-tiba naik menyerupai piramida. Istilah tajug juga biasa digunakan untuk menyebut bangunan berbentuk piramida. ’’Kalau di Cirebon, tajug itu musala. Kalau di sini, musala itu langgar,’’ tuturnya.
Kisah lain yang jadi perbincangan warga sekitar muncul pada 1940-an. Beberapa saat setelah Indonesia merdeka. Konon, saat itu ada jemaah haji asal Indonesia yang tertinggal rombongannya di Saudi. Kemudian, dia bertemu dengan seseorang yang mengenakan jubah putih.
Oleh orang berjubah tadi, si jemaah yang ketinggalan rombongan diminta memejamkan mata. Ketika mata dibuka kembali, seketika dia sudah berada di Makam Keramat Tajug.
Anton menjelaskan, bangunan utama Makam Tajug sudah beberapa kali dirombak. Terakhir dirombak pada 1997 dan selesai 1999 lalu. Saat itu renovasi dilakukan oleh Syekh Ma’sum dari Tebet, Jakarta. Sebelumnya saat Anton masih kecil, bangunan utama makam juga sempat direnovasi. Dulunya bangunan itu memiliki dua piramida di bagian atasnya. Sekarang tinggal satu piramida. ’’Musala ini dulunya juga belum ada,’’ tuturnya.
Layaknya pejuang pada masanya, Tubagus Muhammad Atif juga memiliki peninggalan benda pusaka. Mulai keris hingga tutup pusar. Selain itu, juga ada peninggalan berupa tutup pusar. Aneka peninggalan itu disimpan di Masjid Al Ikhlas yang berjarak sekitar 200 meter dari Makam Keramat Tajuk. Masjid ini sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda. Dulu, masjid tersebut adalah mahar atau maskawin Tubagus Muhammad Atif untuk Siti Almiyah, warga setempat.
Di sebelah makam Tubagus Muhammad Atif hanya ada satu makam. Menurut penjelasan Anton, itu adalah makam Ratu Ayu, adik Tubagus Muhammad Atif sekaligus makam Siti Almmiah. Entah, dia tidak tahu persis bagaimana ceritanya.
Anton mengatakan, setiap tanggal 13 Rabiul Awal atau saat peringatan Maulid Nabi pada malam harinya dilakukan penyucian benda-benda pusaka peninggalan Tubagus Muhammad Atif. ’’Ramai sekali. Diarak dari masjid ke sini,’’ katanya. Proses kirab dan pembersihan pusaka itu murni sebagai pelestarian sejarah saja. Tidak ada maksud klenik. Warga berkumpul dan berdoa bersama-sama sembari menikmati aneka jajanan serta makanan yang tersaji di puncak Makam Keramat Tajug. (wan/c6/any)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
