
Exif_JPEG_420
JawaPos.com - Salah satu titik operasi penindakan berupa tilang yang sering dilakukan polisi di stopan Jalan Ir. H. Juanda, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (27/10) sore terlihat sepi. Tidak hanya tindakan berupa penilangan yang raib, tapi petugas polisi yang biasa berjaga pun tak kelihatan batang hidungnya.
Pos polisi yang ada di ujung salah satu jalan dengan jendela dan pintu kaca serba hitam pun tertutup. Tak kelihatan ada kehidupan di dalamnya.
Salah satu tukang ojek yang mangkal di trotoar Jalan Ir. H. Juanda, Haryanto, 45, namanya, mengatakan bahwa sudah sejak pagi ia tak melihat polisi yang memang biasa melakukan pengaturan lalu lintas di ruas jalan tersebut.
Yanto, panggilannya, mengaku bahwa memang sering ada pengendara yang ditilang di jalan tersebut pada jam-jam pergi dan pulang kantor atau sekitar pukul 07.00-10.00 dan 16.00-17.00. "Ya biasanya sih emang sering lihat yang ditilang di sini. Nggak tahu sekarang pada ke mana (polisinya)," katanya kepada JawaPos.com di lokasi, Kamis (27/10).
Ia mengatakan bahwa sejak pagi, polisi yang biasanya mengatur lalu lintas memang sudah tidak ada hingga sore tadi. "Nggak tahu ke mana," tukasnya.
Yanto sendiri tidak tahu bahwa hari ini adalah hari kedua penerapan tilang manual dihapuskan di DKI Jakarta seperti yang disampaikan Dilantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Latif Usman.
"Jadi petugas di lapangan tidak melakukan penilangan secara manual. Penilangan akan seluruhnya menggunakan ETLE statis,” ujar Latif saat dihubungi, Rabu (26/10).
Masih di tempat duduknya di atas jok motor, Yanto manggut-manggut dan mengaku senang jika hal itu benar terjadi. Sebab, meski malu-malu ia juga mengaku masih kadang terpaksa melanggar marka lalu-lintas. "Ya bagus lah kalau gitu," katanya.
Namun begitu, kelegaannya langsung sirna ketika tahu bahwa tilang elektronik justru yang akan diberlakukan lebih gencar lagi. CCTV akan dipasang lebih banyak lagi dan mobile ETLE akan bergerak mengintai pengendara yang melanggar lalu lintas.
"Waduh, ribet juga, ya. Emang udah paling bener gak usah ngelanggar kali, ya," ucapnya diiringi tawa.
Obrolan dengan Yanto selesai, sekitar pukul 17.08, barulah mulai muncul petugas yang mengatur lalu lintas, tapi bukan polisi, melainkan petugas Dinas Perhubungan yang memang belakangan ini juga digencarkan di jalanan untuk urai kemacetan atas instruksi Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono.
Untuk memastikan raibnya polisi di jalan-jalan yang biasanya jadi spot untuk menindak pengendara yang nakal, JawaPos.com berkendara ke arah Bundaran Monas di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Biasanya, di situlah juga polisi mendindak kebanyakan pengendara mobil yang melintas dan ditilang secara manual.
Namun begitu, sekitar pukul 17.15 tak juga didapati polisi yang berjaga di bundaran tersebut. Lagi-lagi yang terlihat justru personel Dishub DKI dan bahkan malah ada petugas Polisi Militer.
Melanjutkan perjalanan ke Sarinah-Thamrin, bukan hanya tak ada polisi, tapi pos polisinya pun bahkan ditutupi terpal dan tak ada yang berjaga. Lurus terus ke arah Bundaran HI, biasanya polisi banyak berjaga di situ. Penindakan sering terlihat di keluar bundaran pertama dan keluar bundaran keempat. Namun lagi-lagi, polisi tak kelihatan batang hidungnya. Petugas Dishub DKI dan Satpol PP yang justru banyak melakukan giat di sana.
Menurut salah satu petugas Satpol PP yang tak mau disebut namanya, biasanya pada sore itu petugas polisi memang sudah banyak yang mengamankan lalu lintas di Bundaran HI. Namun, ia juga mengaku tak tahu kenapa partner kerjanya di jalan itu tak ada sore itu. "Mungkin karena arahan buat nggak nilang lagi kali, ya. Nggak tahu," katanya.
Namun begitu, ia menyatakan bahwa pada pagi hari, polisi masih terlihat berpatroli di kawasan tersebut. Menurut pengakuannya, sejak pagi memang sudah tak ada lagi polisi yang melakukan penindakan kepala pengendara yang melintas di sana. "Nggak, sih, dari pagi udah nggak ada yang nilang. Kan aturan dari atasannya memang udah begitu," ucapnya.
Sementara itu, warga lain yang berada di kawasan tersebut mengaku sudah tahu aturan baru yang melarang agar polisi melakukan tilang manual. Ia mengaku mengapresiasi langkah tersebut. Sebab, selama ini banyak pungli yang sering terjadi jika tilang manual masih diberlakukan.
"Kalau gitu (pungli) kan masuknya uang bukan ke negara jadinya. Baguslah kalau misal emang gak diberlakukan lagi," katanya.
Dengan adanya sistem penilangan secara elektronik, ia yakin bahwa warga masih waspada dan tetap berkendara sesuai dengan aturan yang berlaku. "Malah kan sama takut juga kalau nggak tahu di mana ada kameranya," tandasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
