Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 23.50 WIB

Dedi Mulyadi Geleng-geleng Kepala Mendengar Cerita Kejamnya Perusahaan Tambang

Devi, salah satu korban kecelakaan kendaraan tambang di daerah Rumpin. (YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel) - Image

Devi, salah satu korban kecelakaan kendaraan tambang di daerah Rumpin. (YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel)

JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dibuat geleng-geleng kepala mendengar cerita dari Devi, salah satu korban kecelakaan kendaraan tambang yang terjadi di daerah Rumpin pada 19 Agustus 2020 silam.

"Kejam banget ya," ucap Dedi Mulyadi sampai beberapa kali, dalam video diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadid Channel.

Awalnya, Devi bercerita tentang dirinya mengalami kecelakaan setelah pulang dari sekolah. Pada saat itu, Devi dibonceng salah satu temannya dan isi bensi di salah satu pom bensin terlebih dahulu.

"Pulang dari isi bensin di pom, pas mau belok, ditabrak dari belakang sama mobil tambang. Bemper mobilnya kena pinggang saya,"kata Devi.

Usai ditabrak dari belakang, kendaraan tambang sengaja melajukan kendaraannya dengan harapan Devi dan temannya meninggal dunia. 

Menurut penuturan Devi, truk tambang sengaja membunuh orang yang sudah terlanjur kena tabrak supaya dapat meringankan biaya bagi perusahaan tambang.

"Si sopir karena sudah tahu jatuh, terus dibablasin sekalian. Kalau meninggal kan biayanya sedikit. Tapi kalau selamat, biayanya jadi lebih besar," cerita Devi.

"Dibalasin dibikin meninggal biar santunannya kecil. Edan," timpal Dedi Mulyadi.

"Iya begitu pak, kalau di Rumpin begitu. Biasanya kalau pertambangan memang seperti itu pak. Kalau selamat kayak Devi, dia berkepanjangan jadi rugi dia," timpal Devi.

Mendengar cerita dari Devi, Dedi Mulyadi geleng-geleng kepala. Dia tak menduga ternyata pihak perusahaan tambang rela mengorbankan nyawa manusia tak berdosa untuk mengejar kepentingan diri sendiri.

"Kejam banget ya," ucap Dedi Mulyadi

Jika orang meninggal dunia gara-gara ditabrak kendaraan tambang, biasaya mendapat biaya santunan sebesar Rp 25 juta. Berhubung Devi masih hidup, maka pihak perusahaan tambang keluar uang sekitar Rp 261 juta selama 10 hari Devi menjalani perawatan di RS Eka Hospital.

"Harusnya Devi operasi besar kedua. Karena biayanya makin membengkak,tambang nggak mau tanggung jawab. Akhirnya Devi dikeluarin dari rumah sakit," ceritanya. 

Tindakan perusahaan tambang yang tidak mau menalangi biaya pengobatan rumah sakit Devi lantas memunculkan kemarahan bagi warga sekitar tambang. Mereka pun sempat menutup jalan tambang di sekitar perusahaan selama beberapa hari.

"Karena didemo sama warga tidak boleh lewat, akhirnya dikasih Rp 100 juta," ungkap Devi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore