
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi bersama Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi, dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor Wawan Hikal mendatangi objek wisata Hibisc Fantasy Puncak Bogor, pada Kamis (6/3).
JawaPos.com - Usai penyegelan dan penanaman pohon di Puncak Bogor, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali mendatangi Hibisc untuk melihat prosesi pembongkaran. Ia datang untuk memastikan pembongkaran bangunan sesuai dengan yang direkomendasikan sejumlah pihak.
Dikutip Radar Bogor (Jawa Pos Group), Setelah melakukan sesi tanya jawab bersama wartawan, mantan karyawan Hibisc yang bekerja sebagai operator meminta agar bisa berdialog dengan Gubernur Jawa Barat tersebut.
Mereka meminta Dedi Mulyadi untuk memikirkan nasib mantan karyawan setelah objek wisata yang baru dibangun tersebut dibongkar. "Saya tidak bisa berkomentar, kita tidak bisa ngomong apa-apa," ucap Dedi.
Ia menuturkan, dirinya juga kasihan dengan korban banjir yang terjadi di Bekasi, Karawang, dan Puncak Bogor. "Yang di bawah juga kasihan, ada yang meninggal," tutur Dedi.
Saat salah satu mantan karyawan Hibisc meminta untuk solusi pekerjaan, Dedi memintanya untuk tidak menuntut. "Jangan nuntut, jangan aneh-aneh, jangan nuntut pekerjaan ke saya," jawab mantan Bupati Purwakarta tersebut.
Ia menyampaikan, dirinya memberi kebijakan untuk pekerja bangunan yang berhenti bekerja karena proyek dihentikan.
"Saya tadi memberi kebijakan untuk masyarakat biasa, pekerja bangunan, untuk menanam pohon," ujar Dedi.
Ia menanyakan kepada mantan karyawan untuk bekerja seperti pekerja bangunan. "Nguli nanem pohon, mau?" tanya Dedi Mulyadi.
Dedi menegaskan pekerjaan tersebut tidak memiliki jaminan dan meminta mantan karyawan Hibisc untuk mencari pekerjaan di tempat lain. "Engga ada jaminan. Paling cari lagi tempat lain," imbuh Gubernur Jawa Barat ini.
Saat salah satu mantan karyawan sempat mengadu mencari pekerjaan sulit dan menyatakan keputusan Dedi Mulyadi terprovokasi oleh aksi sejumlah masyarakat.
"Ini tidak ada kaitannya dengan provokator, ini terkait pidana lingkungan. Jangan aneh-aneh. Kita bongkar ini karena didesak mereka? engga," tegasnya.
Menurutnya, bangunan objek wisata ini dibongkar karena melanggar undang-undang dan membahayakan daerah hilir.
"Kita bongkar ini karena melanggar undang-undang, anda mikir ini engga, di bawah banjir," ungkapnya.
Dedi mengatakan, hanya bisa memberikan pekerjaan yang bisa dijamin. "Saya hanya bisa menjanjikan pekerjaan, yang otak saya bisa menjamin, karena saya bukan pengusaha," sebutnya.
Dedi Mulyadi menegaskan dirinya harus memikirkan masyarakat lain yang terdampak banjir.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
