JawaPos.com - Aksi demonstrasi warga Kapuk Muara di kawasan perumahan elit Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara berakhir ricuh. Beberapa orang dilaporkan terluka karena kejadian tersebut.
Bentrokan pecah setelah petugas pengamanan khusus (Pamsus) kawasan PIK membubarkan massa yang menuntut untuk jalan tembus di kawasan itu dibuka.
Akibat bentrokan ini, beberapa warga Kapuk Muara yang menjadi peserta demo mengalami luka-luka terkena lemparan batu dan benda lainnya dari pihak keamanan PIK.
Mulanya, massa aksi menggunakan mobil komando, odong-odong, bajaj, hingga motor pribadi bertolak ke arah Jalan Pantai Indah. Mereka melakukan aksi di depan kantor pemasaran PT Mandara Permai yang diketahui merupakan salah satu perusahaan pengembang properti di kawasan PIK. Namun diadang dan akhirnya demo dilakukan di Jalan Pantai Indah.
Koordinator aksi warga Kapuk Muara, Sufyan Hadi mengatakan, unjuk rasa ini terkait adanya penutupan akses jalan dari Kapuk Muara ke PIK telah berlangsung sejak 2015.
Padahal, sejak tahun itu sudah ada Surat Keputusan (SK) Gubernur yang menyatakan bahwa jalan tersebut harus dibuka.
Warga mengeluhkan dampak dari penutupan ini, termasuk meningkatnya risiko banjir akibat terganggunya sistem drainase serta hambatan dalam mobilitas sehari-hari.
Lewat demo ini pun warga akhirnya menuntut dan meminta akses darurat yang bisa digunakan oleh warga untuk keluar-masuk kawasan tersebut.
"Di daerah ini ketika hujan pasti ada yang banjir. Kalau ada akses di situ, akan mempermudah warga mencari nafkah dan aktivitas lainnya," ujar Sufyan kepada wartawan, Jumat (14/2).
Saat melakukan aksi unjuk rasa di Jalan Pantai Indah, mereka melakukan orasi di sana.
Namun, di sela-sela orasi, terdengar provokasi muncul diduga dari beberapa petugas keamanan PIK. Provokator itu mengejek warga dan meminta mereka membubarkan diri.
Bentrokan akhirnya pecah ketika provokasi itu terus berlanjut, dan warga didorong mundur oleh petugas keamanan PIK.
Terlihat beberapa orang tak dikenal dari arah petugas keamanan juga melakukan pelemparan batu ke arah warga.
Warga yang tak terima dipukul mundur akhirnya membalas serangan petugas dengan melemparkan batu dan benda lainnya ke arah petugas.
Bentrokan yang berlangsung lebih dari 10 menit itu akhirnya selesai setelah warga peserta aksi unjuk rasa akhirnya mundur.
Akibat kejadian ini, sedikitnya delapan orang warga peserta aksi unjuk rasa mengalami luka di kepalanya terkena lemparan batu dan benda keras lainnya.
Mobil komando serta beberapa odong-odong yang dibawa peserta aksi pun mengalami kerusakan.
Munir, anggota Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 05 Kapuk Muara, menjadi salah satu korban dalam insiden ini. Ia mengaku mengalami sesak di dada setelah ditarik oleh pihak keamanan perumahan.
"Saya ditarik cukup sakit, dada saya sesak. Saya tidak merasa dimanusiakan. Saya warga Kapuk Muara sejak lahir, dan kami hanya ingin menyuarakan aspirasi kami," ucap Munir.
Ia juga menambahkan bahwa dirinya sempat diinterogasi oleh petugas keamanan yang mempertanyakan identitas dan keberpihakannya karena demo tersebut.
"Saya bilang, kalau abang netral, abang pasti mengerti kondisi kami. Setiap banjir 10 sentimeter dari dipan, kami yang merasakan," pungkasnya.