Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 Januari 2025, 22.44 WIB

Alasan Kapolsek Cinangka Tidak Lakukan Pendampingan, Takut Salahi Aturan Kalau Ikut Lakukan Penarikan Mobil

Ilustrasi police line. - Image

Ilustrasi police line.

 
JawaPos.com - Kapolsek Cinangka Polres Cilegon AKP Asep Iwan Kurniawan memberikan klarifikasi terkait penolakan pendampingan terhadap korban penembakan bos pemilik rental mobil yang ditembak mati di rest area Tol Tangerang-Merak, tepatnya di Km 45 arah Jakarta. 
 
Ia menjelaskan, pada Kamis (2/1) sekira pukul 03.10 WIB, sekitar 7 orang mendatangi Polsek Cinangka, Polres Cilegon menggunakan mobil expander warna putih. Mereka mengaku dari leasing dan meminta bantuan pendampingan untuk melakukan pengambilan atau penarikan mobil karena masalah leasing/rental.
 
"Saat itu diterima oleh Brigadir Deri selaku anggota piket menanyakan terkait legalitas kendaraan yang akan di tarik tersebut namun yang bersangkutan tidak bisa menunjukannya," ujarnya, Jumat (3/1).
 
 
Setelah itu, lanjut Asep, Deri menghubunginya via telpon untuk meminta petunjuk dan arahan Pimpinan. Kemudian, dirinya memberikan arahan untuk memberikan pemahaman kepada pelapor bahwa hal itu dapat berpotensi melanggar hukum karena melakukan penyitaan atau penarikan kendaraan. 
 
"Jangan sampai upaya kita melakukan pendampingan tersebut menyalahi aturan/melanggar hukum karena akan mensita/menarik kendaraan untuk antisipasi kerawanan atau perlawanan saat melakukan penarikan mobil tersebut," katanya.
 
Setelah meminta arahannya, kata Asep, salah seorang korban mengaku bahwa yang bersangkutan adalah pemilik rental mobil tersebut. Untuk itu, Brigadir Deri menyarankan untuk membuat laporan kepolisian secara resmi. 
 
"Jika memang yang bersangkutan adalah pemilik kendaraan/rental disarankan untuk membuat laporan secara resmi sebagai dasar pihak kepolisian. Karena mereka datang meminta bantuan pendampingan tidak dilengkapi dengan bukti surat apapun sebagai dasar penarikan Mobil, setelah diberi pemahaman yang bersangkutan langsung pergi ke arah Cilegon," jelasnya. 
 
 
Sebelumnya, Agam muhammad, 26, putra korban penembakan IAS, menceritakan kronologi lengkap terhadap peristiwa yang dialaminya. 
 
Peristiwa ini bermula saat salah satu pelaku Ajat Supriatna menyewa mobil Honda Brio selama tiga hari (31 Desember 2024 - 2 Januari 2025). Namun, pada 1 Januari 2025, pihak rental mendapati dua perangkat GPS mobil telah dipotong di wilayah Pandeglang. 
 
Namun, masih terdapat satu GPS aktif yang belum diputus oleh pelaku. Kemudian, Agam dan tim, termasuk korban IAS segera melacak kendaraan tersebut yang berada di Pandeglang. 
 
"Nah dia dari arah Pandeglang, terus ketemu di pertigaan Saketi, sampai pertigaan Saketi itu kita portal mobil Brio kita," ujar Agam, Kamis (2/10 malam.
 
Mereka berhasil menghadang mobil Brio di pertigaan Saketi, Pandeglang. Namun, situasi berubah tegang ketika pelaku mengeluarkan senjata api dan mengaku sebagai anggota TNI AU sambil mengancam. 
 
"Tiba-tiba orang di dalam mobil mengeluarkan senjata api dan dia bilang "Siapa lo, saya dari anggota TNI AU nih, awas enggak loh" sambil nodong senjata," ungkap Agam.
 
Tak lama, sebuah mobil Sigra hitam datang dan menabrak kendaraan yang digunakan oleh tim Makmur Jaya Rental. Mobil Brio dan Sigra yang digunakan pelaku pun melarikan diri.
 
Pihaknya, kata Agam, kembali mengejar pelaku dengan memantau GPS. Kendaraan pelaku sempat berhenti sekitar 20 menit di Pasar Anyer, sekitar 2 kilometer dari Polsek Cinangka terdekat. 
 
Agam dan tim pun meminta pendampingan dari polisi karena mengetahui pelaku bersenjata. Sayangnya, permintaan tersebut ditolak, bahkan setelah pihak petugas Polsek menghubungi Kapolsek untuk konfirmasi.
 
"Setelah itu Saya bilang ke Petugas di Polsek "buat apa bertugas, ini untuk mendampingi saya kok enggak mau". Dia (petugas) konfirmasi dulu ke Kapolsek. Hasil dari telepon ke Kapolsek ternyata Polsek pun tidak mau untuk pendampingan," terang Agam. 
 
 
Melihat mobil curian itu kembali ada pergerakan, Agam dan lainnya kembali membuntuti pelaku hingga ke Balaraja, Tangerang, sambil berkoordinasi dengan rekan-rekan mereka di Asosiasi Rental Mobil Indonesia (ARMI) Tangerang.
 
Hingga akhirnya kedua mobil yang digunakan pelaku berhenti di depan Indomaret Rest Area Tol Tangerang-Merak KM 45. 
 
"Di Indomaret kita nunggu Bang Agus, Azri dan Pak Ramli. Kita nunggu kita 3-5 menit, pas ketemu langsung kita hadang tuh mobil," terangnya. 
 
"Bapak saya sama tim menangkap itu orang (yang menggunakan mobil Brio) karena kan di awalnya kan dia itu megang senjata api (senpi). Jadi disekap, dipegang tangannya supaya enggak bisa bergerak, ternyata kawan yang di seberangnya itu yang pakai Sigra ada senpi juga," jelasnya.
 
Dari situlah mulai terjadi insiden penembakan terjadi hingga mengakibatkan ayah Agam, Ilyas Abdurahman (IAS), 48, terkena tembakan pada bagian dada dan tangan kiri hingga tewas. Serta Ramli Abu Bakar (RAB), 60 juga turut terkena tembakan di bawah ketiak kanan.
 
Meskipun sempat dibawa ke IGD RSUD Balaraja, nyawa IAS tidak dapat diselamatkan.
 
"Waktu itu saya Agam kabur cari perlindungan sama beberapa tim. Setelah dia (pelaku) kabur bawa mobil saya lagi, saya kembali lagi ke tempat awal. Ternyata Pak Ramli udah terkena tembakan di bagian tangan sampai tembus ke perut. Saya menolong Pak Ramli, tapi ternyata ada satu korban lagi di Indomaret, ternyata Ayah saya sendiri yang kena tembakan di dadanya dan tangannya," ungkapnya.
 
 
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore