
Alumni Gontor angkatan 96 saat salat Gaib di Taman Iskandar Muda Kota Depok. (Istimewa)
JawaPos.com - Wafatnya AM, santri pondok modern Darussalam Gontor Ponorogo asal Palembang karena diduga mengalami kekerasan membawa duka banyak pihak. Termasuk, alumni Gontor angkatan 96. Mereka menggelar salat Gaib yang dihadiri oleh alumni yang tinggal di Jabodetabek. Salat Gaib itu dilakukan di Taman Iskandar Muda Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/9).
Budi Mawardi, salah satu Alumni Gontor yang juga pengurus Yayasan Bina Berkah Bersama mengatakan, alumni angkatan 96 ikut merasakan kesedihan atas kejadian yang dialami almarhum AM. "Menyikapi musibah ini, kami tekankan, sebagai alumni kami juga sedih," ungkap Budi.
Dia yakin pondok modern Darussalam Gontor dan Soimah, ibunda AM bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik dan adil. Dari pemberitaan yang diikutinya, sikap Gontor juga disebutnya sudah clear. "Nyawa tetap nyawa dan Ibu soimah harus mendapatkan keadilan, proses hukum harus jalan serta pelaku harus segera dihukum," jelasnya.
Dia berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi Gontor. Ke depan, pondok modern itu harus berubah dan berbenah dalam metode pengajaran serta pendidikan kepada santrinya. Jangan sampai, kejadian serupa terulang lagi.
"Yang terpenting Gontor harus berbenah dan berubah. Apalagi mau mendekati 1 abad Gontor, ini mementum yang tepat berubah serta beradaptasi dengan zaman yang seperti dulu Gontor lakukan," kata Budi Mawardi.
Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan penganiayaan yang berujung kematian salah seorang santri di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, diawali dari kegiatan Pramuka. Kepala Bidan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur As'adul Anam menjelaskan, awalnya, almarhum AM menjadi Ketua Panitia dari kegiatan Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum).
Pada Sabtu, seluruh peserta mengembalikan semua alat-alat Pramuka yang digunakan dalam Perkajum tersebut. AM, santri asal Palembang yang masih duduk di bangku setara SMA kelas XI itu juga mengembalikan barang. ”Sabtu dikembalikan (barang-barangnya). Lalu Senin dipanggil oleh senior,” kata As'adul Anam.
MA, kata Anam, dipanggil senior karena disebut ada masalah dalam barang yang dikembalikan. Kata pelaku, MA ditanyai karena mengampu tanggung jawab sebagai ketua panitia. ”Senin, ditanya sama seniornya saat mengembalikan apakah ada masalah terkait alat yang digunakan? Lalu terjadi cekcok,” papar As'adul Anam.
Cekcok yang terjadi saat pengembalian alat itu pun mengarah pada penganiayaan yang dilakukan terhadap MA. Namun, Anam belum bisa menjelaskan secara detil peristiwa itu. ”Ini murni (kasus) antara santri dengan santri. Tidak ada hubungannya dengan lembaga,” terang Anam.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
