Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 01.15 WIB

TGB Zainul Majdi Sebut Kurban Presiden Prabowo Tak Seharusnya Mengatasnamakan Pribadi, Karena Pakai Uang Negara

Mantan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. (Istimewa) - Image

Mantan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. (Istimewa)

JawaPos.com - Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGB Zainul Majdi, menilai tradisi kurban yang dilakukan pemerintah menggunakan anggaran negara sebaiknya tidak mengatasnamakan pribadi pejabat. Menurutnya, pelaksanaan kurban tersebut memang melekat pada jabatan, karena menggunakan dana dari APBN maupun APBD.

TGB menjelaskan, tradisi kurban pemerintah sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, baik di tingkat pusat maupun daerah. Ia menyebut presiden, gubernur, bupati hingga wali kota selama ini juga memiliki program kurban yang menggunakan anggaran negara.

“Setahu saya sejak lama memang ada tradisi berkurban dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Ya presiden, gubernur, bupati, wali kota bahkan pimpinan dari beberapa lembaga negara juga ada,” kata TGB Zainul Majdi sebagaimana dikutip pada media sosial Instagram pribadinya, Kamis (28/5).

Menurut dia, sumber pendanaan menjadi pembeda antara kurban pribadi dan kurban pemerintah. Sebab, anggaran yang digunakan bersumber dari uang negara, maka penyebutannya pun mengikuti jabatan yang melekat pada pejabat tersebut.

“Nah sumber dananya, ya dari APBN dan atau APBD. Jadi disebutnya itu kalau tingkat misalnya pemimpin tertinggi ya jabatan yang disebut itu ya kurban presiden, misalnya untuk tingkat presiden,” ujarnya.

TGB kemudian mencontohkan pengalamannya ketika masih menjabat sebagai Gubernur NTB. Saat itu, program kurban pemerintah daerah juga dilakukan dengan menggunakan nama jabatan, bukan nama pribadi.

“Dulu waktu saya berkhidmat sebagai gubernur, itu juga ada dalam tanda kutip 'kurban gubernur'. Jadi ditulisnya di sapi itu kurban gubernur ya, bukan kurban Zainul Majdi atau TGB gitu, bukan,” ucapnya.

Ia menegaskan, penggunaan nama jabatan dalam program kurban pemerintah penting agar masyarakat memahami bahwa hewan kurban tersebut dibeli menggunakan uang negara, bukan dana pribadi pejabat.

“Kenapa? Ya karena memang ini melekat dengan jabatan. Ini pakai uang negara, bukan pribadi,” tegasnya.

Meski demikian, TGB menjelaskan bahwa kurban pemerintah berbeda dengan ibadah kurban secara syariat yang dilakukan secara personal. Kurban pribadi, kata dia, harus menggunakan dana sendiri dan dilaksanakan atas nama individu yang berkurban.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore