
Ilustrasi emosi, marah. (Photo by Craig Adderley/Pexels)
JawaPos.com - Puasa Ramadhan tidak bisa hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan haus saja. Lebih dari itu, puasa juga memiliki peran penting dalam mengontrol emosi dan menjaga kesehatan mental seseorang.
Puasa bukan hanya ritual keagamaan, tapi juga proses pembentukan karakter dan pengelolaan emosi lebih baik.
Dengan menjalani puasa secara sehat dan dengan penuh kesadaran, seseorang dapat memperoleh manfaat psikologis berupa emosi yang lebih stabil, tenang, dan terkontrol.
Sejumlah kajian psikologi dan medis menunjukkan bahwa puasa dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang, sabar, dan mampu mengelola stres dengan lebih baik.
Berikut 5 hubungan antara puasa dan kontrol emosi yang perlu diketahui.
Puasa dapat melatih kemampuan untuk menahan dorongan, baik fisik maupun emosional. Menahan lapar, haus, dan hawa nafsu akan melatih otak untuk tidak bereaksi impulsif.
Dalam psikologi, kemampuan pengendalian diri ini berkaitan erat dengan regulasi emosi. Seseorang yang terbiasa mengontrol dorongan cenderung lebih mampu menahan amarah dan tidak mudah terpancing emosi.
Secara medis, puasa berpengaruh terhadap hormon kortisol yang berperan dalam respons stres. Pola puasa yang sehat dan teratur dapat membantu menstabilkan hormon tersebut.
Ketika kadar hormon stres lebih terkendali, seseorang akan merasa lebih tenang dan fokus. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang merasakan ketenangan emosional setelah melewati fase berpuasa.
Saat berpuasa, tubuh dan pikiran menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suasana hati. Kondisi ini mendorong seseorang untuk lebih mengenali emosinya sendiri, apakah rasa marah muncul karena kelelahan, lapar, atau tekanan psikologis.
Kesadaran emosional ini penting karena menjadi dasar dalam mengelola emosi secara sehat, bukan meluapkannya secara berlebihan.
Puasa yang dibarengi dengan ibadah dan refleksi diri terbukti secara psikologis dapat meningkatkan ketenangan batin. Aktivitas spiritual seperti berdoa dan berdzikir membantu menurunkan kecemasan serta menstabilkan emosi.
Ketenangan batin ini membuat seseorang lebih mampu menghadapi masalah dengan kepala dingin dan tidak mudah bereaksi secara emosional.
Rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa juga menumbuhkan empati terhadap orang lain yang hidup dalam keterbatasan. Empati ini berdampak pada emosi sosial, seperti meningkatnya rasa peduli, kesabaran, dan toleransi.
Dalam jangka panjang, empati yang terasah dapat membantu membentuk hubungan sosial yang lebih sehat dan emosi yang lebih terkendali.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022