
Ilustrasi ramadhan. (Freepik)
JawaPos.com - Ibadah puasa, termasuk puasa Ramadhan, tidak hanya bernilai ibadah kaitannya dengan Yang di Atas. Tapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh bagi orang yang menjalaninya.
Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa puasa dapat membantu melakukan reset metabolisme atau mengembalikan fungsi metabolik tubuh agar dapat bekerja lebih baik dan efisien.
Secara medis, puasa terbukti membantu melakukan reset metabolisme melalui penurunan insulin, aktivasi autophagy (membersihkan atau mendaur ulang komponen sel yang rusak), perbaikan hormon, hingga peningkatan sensitivitas sel terhadap energi.
Jika ibadah puasa dijalani dengan pola makan sahur dan berbuka yang seimbang, maka puasa Ramadhan dapat menjadi momen yang ideal untuk memperbaiki kesehatan metabolik tubuh.
Berikut 9 penjelasan ilmiah tentang puasa dapat membantu melakukan reset metabolisme tubuh.
Saat berpuasa, tubuh tidak terus-menerus mencerna makanan. Kondisi ini memberi waktu istirahat bagi lambung, usus, dan organ pencernaan lainnya. Jeda makan ini membantu meningkatkan efisiensi metabolisme dan sensitivitas hormon.
Puasa menyebabkan kadar insulin menurun. Insulin yang rendah memungkinkan tubuh beralih dari pembakaran glukosa ke pembakaran lemak. Inilah awal dari metabolic switch, kondisi penting dalam reset metabolisme.
Autophagy adalah proses pembersihan sel rusak yang dipicu saat tubuh kekurangan asupan energi. Penelitian yang dilakukan Yoshinori Ohsumi, pemenang Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 2016, membuktikan bahwa puasa memicu autophagy, membantu regenerasi sel dan memperbaiki fungsi metabolik.
Puasa terbukti membantu tubuh merespons insulin dengan lebih baik. Studi dalam The American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa peningkatan sensitivitas insulin menurunkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas metabolik.
Puasa memengaruhi hormon penting seperti leptin, ghrelin, dan adiponektin. Keseimbangan hormon ini membantu mengatur rasa lapar, kenyang, serta penggunaan energi yang menjadi faktor kunci dalam reset metabolisme.
Setelah 8–12 jam berpuasa, cadangan glikogen menurun dan tubuh mulai menggunakan lemak sebagai bahan bakar utama. Proses ini meningkatkan efisiensi metabolisme dan membantu perbaikan komposisi tubuh.
Puasa dapat menurunkan marker peradangan seperti CRP (C-reactive protein). Peradangan kronis diketahui mengganggu metabolisme, sehingga penurunannya membantu metabolisme kembali optimal.
Puasa Ramadhan secara tidak langsung melatih pola makan terjadwal. Ritme makan yang konsisten akan membantu sinkronisasi jam biologis tubuh, termasuk metabolisme glukosa dan lemak.
Dengan metabolisme yang lebih efisien, tubuh tidak mudah menyimpan lemak berlebih. Inilah alasan mengapa puasa sering dikaitkan dengan perbaikan berat badan dan penurunan risiko sindrom metabolik.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
