
Ilustrasi Salah Satu Tradisi Maulid Nabi. (Dok.Taman Budaya DIY)
JawaPos.com - Maulid Nabi menjadi perayaan tahunan yang selalu dirayakan oleh umat Islam dari berbagai penjuru dunia sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad.
Berkat kehadiran Nabi Muhammad, umat manusia mendapatkan kebaikan dan anugerah terbesar berupa cahaya iman.
Di Indonesia, sejumlah daerah merayakan Maulid Nabi dengan penuh antusias sebagai ekspresi cinta mereka kepada Rasulullah.
Bukan hanya pada 12 Rabiul Awwal pada hari kelahiran Nabi, tradisi Maulid Nabi bahkan dirayakan selama 1 bulan penuh oleh masyarakat secara bergantian.
Beragam cara dilakukan masyarakat di Indonesia untuk merayakan Maulid Nabi. Dari mulai pembacaan barzanji yang isinya riwayat hidup Nabi, ceramah keagamaan, perlombaan, dan beragam kegiatan lain.
Maulid Nabi juga kerap dipadukan dengan kebudayaan di masing-masing daerah di Indonesia. Di Madura misalnya, ada tradisi Muludhen, di Minang ada tradisi Bungo Lado, di Kudus ada tradisi Kirab Ampyang, Maudu Lompoa atau Maulid Akbar di Sulawesi Selatan dan sejumlah daerah lain
Pertanyaannya kemudian, sejak kapan Maulid Nabi mulai dirayakan? Karena pada saat Rasulullah masih hidup belum ada tradisi Maulid Nabi.
Berdasarkan catatan buku Sejarah Maulid Nabi karya Ahmad Sauri, dinyatakan bahwa bangsa Arab mulai merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad sejak tahun kedua hijriah.
Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa.
Khaizuran atau Jurasyiyah binti 'Atha (170 H/786 M), istri dari Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas yang juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid termasuk orang yang berkontribusi membudayakan Maulid Nabi di Madinah.
Khaizuran menyuruh penduduk Madinah untuk mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.
Setelah di Madinah, Khaizuran lantas pergi ke Makkah menganjurkan penduduk Makkah untuk merayakan Maulid Nabi di rumah-rumah mereka.
Pengaruh Khaizuran yang besar berhasil menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk meneladani sosok, kepribadian, hingga kepemimpinan Nabi.
Prof Quraish Shihab mengatakan, Maulid Nabi dirayakan secara meriah pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa kekhalifahan Al-Hakim Billah.
Maulid Nabi dirayakan untuk tujuan memperkenalkan Nabi Muhammad kepada setiap generasi. Karena dapat mencintai Nabi, dimulai dari mengenalinya terlebih dahulu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
