Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Juni 2025 | 19.05 WIB

Hati-hati! Kurban Anda Bisa Tak Diterima Allah SWT Jika Tanpa Ada Fondasi Penting Ini

DKPP Kota Surabaya melakukan pemeriksaan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha. (Humas Pemkot) - Image

DKPP Kota Surabaya melakukan pemeriksaan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha. (Humas Pemkot)

JawaPos.com - Berkurban banyak hewan kurban sejatinya merupakan suatu kebaikan dan dipastikan akan memberikan manfaat bagi banyak orang yang mendapatkan daging kurbannya.

Hanya saja, bagi orang yang berkurban harus menata diri dengan lebih baik. Bukan hanya mengalokasikan sejumlah uang untuk membeli hewan ternak dalam jumlah banyak dan kemudian berkurban.

Orang yang berkurban harus melandasi ibadah kurbannya dengan fondasi penting yaitu ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena sejatinya, bukan daging atau darah dari hewan kurban yang bernilai di sisi Allah. Allah melihat segala amalan manusia, termasuk dalam ibadah kurban, dari sisi ketakwaan kepada-Nya.

"Apakah berkurban semata kita mengumpulkan binatang ternak sebanyak-banyaknya dan kemudian kita berkompetisi untuk memberikan yang terbanyak? Bila ini yang dimaksud, maka Allah Subhanahu Wata'ala di dalam surah Alhajj ayat 37 mengoreksinya," kata ustadz Fathurrahman Kamal dalam video diunggah akun Instagram lensamu.

"Allah dengan tegas menyatakan bahwa banyaknya binatang ternak, binatang kurban yang kita sembelih sama sekali tidak akan pernah sampai kepada Allah. Tetapi yang sampai kepada Allah adalah takwa yang menjadi dasar, yang menjadi fondasi mengapa kita melakukan ibadah tersebut," imbuhnya usai membacakan ayat 37 dalam surah Alhajj.

Ustadz Fathurrahman Kamal lantas memberikan penjelasan tentang apa itu takwa. Secara sederhana, takwa adalah kegemaran kita untuk melakukan berbagai macam kebaikan dan ketaatan semata karena Allah. Demikian juga senang meninggalkan maksiat demi mengharapkan ridha Allah SWT.

Kurban yang didasarkan hanya karena Allah seperti meniru keteladanan Nabi Ibrahim saat diperintahkan Allah untuk menyembelih anak yang paling disayanginya, Nabi Ismail. Ibrahim rela menyembelih anaknya bukan karena ingin puja puji dari manusia, tetapi demi menjalankan perintah sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah.

Nabi Ibrahim pun lulus ujian. Allah kemudian menyelamatkan Nabi Ismail dan menggantinya dengan kambing atau domba. Kurban yang disembelih sejatinya bukan hewannya. Namun yang disembelih adalah ketamakan, kerakusan, rasa cinta berlebih pada dunia, demi ketaatan kepada Allah SWT.

Dia juga mengatakan, kurban yang sejati adalah orang yang berkurban memberikan nilai yang positif secara transendental di mata Allah, namun juga memberikan manfaat secara sosial atau makhluk di muka bumi.

"Berkurban sesungguhnya adalah suatu media untuk mendekatkan kita kepada Allah. Semakin dekat kita dengan Allah, maka sesungguhnya menifestasinya adalah kita juga semakin gemar menebarkan rahmat dan kasih sayang kepada umat manusia tanpa melakukan diskriminasi, tanpa membeda-bedakan apapun latar belakang orang itu," paparnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore