Baca Juga: 3 Weton Paling Kaya Menurut Primbon Jawa, Konon Kekayaannya Bisa untuk Membeli Negara1. Nasi KebuliNasi kebuli, makanan berbumbu khas Timur Tengah yang populer di Betawi, kerap disajikan dalam perayaan Maulid Nabi. Nasi ini dimasak dengan kaldu daging kambing atau ayam dan rempah pilihan. Menurut NU Online, nasi kebuli menjadi simbol kebersamaan karena biasanya dimakan dalam porsi besar bersama-sama.
2. Nasi Suci Ulam Sari (Sego Ingkung)Di Pacitan, Jawa Timur, masyarakat memperingati Maulid Nabi dengan nasi uduk berbentuk tumpeng, lengkap dengan ayam ingkung di bagian atasnya. Hidangan ini, sebagaimana ditulis NU Online, melambangkan permohonan berkah dan perlindungan dari Allah SWT.
3. Nasi TumpengTumpeng adalah hidangan yang paling identik dengan perayaan tradisi di Jawa, termasuk Maulid Nabi. Bentuk kerucutnya melambangkan gunung sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhan. Lauk-pauknya mencerminkan keberagaman hidup serta rasa syukur. (NU Online)
4. Ketupat SumpilKhas dari Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, ketupat sumpil dibungkus dengan daun bambu berbentuk segitiga. NU Online menjelaskan bahwa bentuknya menjadi simbol hubungan manusia dengan Allah (habluminallah) serta sesama manusia (habluminannas).
5. Endog-EndoganTradisi Banyuwangi ini berupa telur rebus yang dihias kertas warna-warni, lalu diarak dan dibagikan. Menurut NU Online, telur dalam tradisi ini memiliki makna filosofis: kulit melambangkan Islam, putih telur adalah iman, dan kuning telur menggambarkan ikhlas.
6. Kuah BeulangongDari Aceh, ada kuah beulangong, kari khas berbahan daging kambing dan nangka muda. Masakan ini dimasak dalam kuali besar bersama-sama warga. Filosofinya, seperti ditulis NU Online, adalah menumbuhkan semangat kebersamaan dalam peringatan Maulid Nabi.
7. Gunungan MaulidDi Yogyakarta dan Solo, masyarakat membuat gunungan, susunan berbagai makanan yang ditata menyerupai gunung. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan. Tradisi ini melambangkan syukur sekaligus pelestarian budaya (NU Online).
8. Kue ApemKue apem menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Maulid Nabi di Jawa. Dilansir dari RRI, kue apem memiliki makna mendalam: kata “apem” dipercaya berasal dari bahasa Arab afwan yang berarti maaf. Kue ini menjadi simbol permohonan ampun, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Perayaan Maulid Nabi di Indonesia tak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga diramaikan dengan sajian kuliner penuh filosofi.
Dari nasi kebuli di Betawi, ketupat sumpil di Kendal, hingga kue apem yang sarat makna permohonan maaf, semua hidangan tersebut menunjukkan betapa eratnya tradisi, budaya, dan nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat.