Pelaksanaan ibadah haji di Kota Mekkah, Arab Saudi (Saudi Ministry of Hajj/Reuters/Antara)
JawaPos.com - Ibadah haji bukan sekadar rukun Islam kelima, melainkan panggilan Ilahi yang sarat makna spiritual dan filosofis.
Mereka yang berhaji meninggalkan keluarga, harta, dan rutinitas duniawi. Bahkan, syariat menganjurkan untuk menulis wasiat—seolah perjalanan ini bisa menjadi titik akhir kehidupan duniawi dan awal dari kehidupan ruhani yang sejati.
Saat berhaji, seluruh perbedaan status sosial, ras, suku, hingga jabatan melebur. Semua mengenakan pakaian putih tak berjahit, ihram, sebagai simbol kesetaraan mutlak di hadapan Tuhan.
Inilah momen saat identitas duniawi ditanggalkan, dan manusia berdiri dalam keutuhan eksistensinya—hanya sebagai hamba.
Baca Juga: Jangan Sampai Sia-sia! Ini 5 Hal yang Wajib Diperhatikan Jamaah Haji agar Ibadah Maksimal
Dalam kanal YouTube Nuralwala, Ustaz Muh. Nur Jabir, penerjemah karya agung Matsnawi Ma'nawi karya Maulana Rumi menggambarkan haji sebagai pengejawantahan nyata dari ayat Quran.
"Fafirru ilallah" (berlarilah kalian kepada Allah). Haji bukan hanya perjalanan fisik ke tanah suci, tetapi pelarian eksistensial dari hiruk-pikuk dunia menuju pusat makna kehidupan: Tuhan itu sendiri.
Sayangnya, banyak dari kita yang naik haji justru masih membawa "dunia" bersama kita—bukan hanya koper dan bekal, tapi juga kegelisahan, ego, serta bayang-bayang sosial yang membelenggu.
Padahal, sejatinya haji adalah momen qat'—pemutusan dari dunia dan pengosongan diri agar siap diisi oleh cahaya Ilahi.
Rumi: Kekasih Itu Dekat, Jangan Mencari Terlalu Jauh
Dalam Ghazal ke-648, Maulana Rumi menulis dengan nada lirih yang menyentak:
"Wahai kalian yang pergi haji, ke mana kalian? Kekasih ada di sini, di dekatmu."
Baris ini mengajarkan bahwa Tuhan tak perlu dicari dalam jarak dan ruang. Ia ada begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher.
Dalam pandangan Rumi, perjalanan ke Ka'bah hanyalah simbol; perjalanan yang sejati adalah ke dalam hati—tempat Tuhan sesungguhnya bersemayam.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
