
Para orang tua menghadiri acara di Jepang untuk mencarikan calon pasangan bagi anak-anak mereka. (Association of Parents of Marriage Proposal Information/Kyodo)
JawaPos.com - Orang tua di Jepang semakin aktif terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Bantuan yang diberikan kini mencakup pencarian pasangan hidup, proses melamar pekerjaan, hingga menemukan tempat tinggal. Fenomena ini memperlihatkan batas antara dukungan orang tua dan keputusan pribadi anak yang semakin kabur.
Dilansir dari Kyodo, Rabu (28/10), salah satu bentuk keterlibatan tersebut terlihat dalam praktik yang dikenal sebagai proxy matchmaking atau perjodohan yang diwakili orang tua. Dalam kegiatan ini, orang tua menghadiri acara perjodohan dengan membawa foto dan profil anak mereka, lalu berbincang dengan orang tua lain untuk mencari calon pasangan yang dianggap cocok.
Asosiasi Orang Tua untuk Informasi Perjodohan, yang mulai menyelenggarakan pertemuan semacam ini pada 2005, mencatat peningkatan jumlah peserta. Dari yang semula hanya beberapa puluh orang, acara di kota-kota besar kini dapat dihadiri sekitar 200 orang. Sementara itu, pertemuan di daerah secara rutin menarik sekitar 30 peserta.
Orang tua yang mengikuti kegiatan tersebut menyerahkan profil anak mereka, termasuk usia, pendidikan, pekerjaan, hobi, dan informasi lainnya. Mereka kemudian bertukar informasi kontak dengan keluarga yang dinilai cocok. Keputusan untuk melanjutkan hubungan tetap diserahkan kepada calon pasangan.
Sebagian besar peserta berusia akhir 60-an hingga awal 70-an tahun, meski ada pula yang berusia 50-an.
Keterlibatan orang tua juga semakin terlihat dalam proses pencarian kerja. Survei Mynavi Corp. menunjukkan, 52 persen orang tua dari mahasiswa yang lulus pada 2024 pernah dihubungi perusahaan untuk mengonfirmasi persetujuan mereka terhadap tawaran pekerjaan bagi anaknya. Angka tersebut melampaui 50 persen untuk pertama kalinya.
Survei yang sama menemukan bahwa 17 persen perusahaan mengundang orang tua untuk menghadiri acara pemberian tawaran kerja atau upacara penerimaan karyawan. Hal ini mencerminkan upaya perusahaan untuk memperoleh pemahaman dan dukungan keluarga calon pekerja.
Survei terpisah dari layanan rekrutmen lulusan ABABA menunjukkan, 52 persen mahasiswa ingin orang tua mereka terlibat dalam proses mencari kerja. Sebanyak 51 persen orang tua juga ingin berpartisipasi. Alasan yang paling sering disampaikan mahasiswa adalah kekhawatiran mengambil keputusan sendiri.
Dalam urusan tempat tinggal, orang tua juga semakin aktif membantu anak mencari hunian, khususnya mahasiswa. Survei perusahaan penyedia informasi properti At Home Co. menemukan bahwa 70 persen orang tua terlibat aktif dalam pencarian tempat tinggal anak mereka.
Dari kelompok orang tua yang terlibat tersebut, sekitar 30 persen bahkan mendatangi atau menghubungi agen properti secara langsung.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022