Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Oktober 2026 | 05.02 WIB

Kekayaan Larry Ellison Susut USD 194 Miliar, Ekspansi AI Oracle Dibayangi Utang

Larry Ellison, pendiri Oracle, menghadapi penyusutan kekayaan di tengah anjloknya saham perusahaan akibat kekhawatiran atas utang dan besarnya investasi infrastruktur AI (Fortune) - Image

Larry Ellison, pendiri Oracle, menghadapi penyusutan kekayaan di tengah anjloknya saham perusahaan akibat kekhawatiran atas utang dan besarnya investasi infrastruktur AI (Fortune)

JawaPos.com - Kekayaan Larry Ellison, salah satu pendiri Oracle, menyusut sekitar USD 194 miliar atau setara Rp3.499,82 triliun, dengan kurs Rp18.030 per dolar AS. Penurunan dalam setahun ini mencerminkan risiko besar di balik perlombaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang melibatkan perusahaan teknologi terbesar dunia. 

Melansir The Street, Kamis (22/10/2026), kekayaan Ellison kini diperkirakan sekitar USD 182 miliar, menempatkannya di peringkat kedelapan dalam Bloomberg Billionaires Index. Pada September 2025, Ellison sempat menjadi orang terkaya di dunia ketika saham Oracle melonjak menyusul laporan mengenai kesepakatan komputasi senilai USD 300 miliar yang terkait dengan proyek Stargate milik OpenAI. 

Kekayaannya ketika itu mencapai hampir USD 393 miliar. Namun, setahun kemudian, saham Oracle telah merosot sekitar 62 persen dari puncaknya. Ellison memiliki sekitar 40 persen saham perusahaan, sehingga perubahan harga saham berdampak langsung terhadap nilai kekayaannya.

Kemerosotan tersebut berkaitan dengan perubahan strategi Oracle. Perusahaan yang dikenal melalui perangkat lunak basis data dan layanan komputasi awan bagi pemerintah serta korporasi besar itu kini semakin agresif menyewakan kapasitas komputasi untuk pengembangan AI, termasuk kepada OpenAI.

Strategi ini semula mendorong optimisme investor, tetapi kebutuhan investasi yang membengkak kemudian memunculkan kekhawatiran terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Pada Desember 2025, Oracle memperingatkan prospek penjualan perangkat lunak yang lebih lemah sekaligus mengumumkan kebutuhan belanja pusat data jauh di atas perkiraan Wall Street. Pengumuman itu memicu tekanan terhadap saham dan memangkas kekayaan Ellison sekitar USD 25 miliar hanya dalam sehari. Pada Juni 2026, saham Oracle kembali anjlok hampir 20 persen dalam sepekan, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak 2001.

Tekanan pasar juga diperburuk oleh struktur pendanaan ekspansi tersebut. Menurut laporan The Street, total utang Oracle kini mencapai sekitar USD 169 miliar atau Rp3.050,67 triliun. Pada Juli 2026, S&P Global menurunkan peringkat kredit Oracle menjadi BBB-, tingkat terbawah kategori layak investasi, dengan mempertimbangkan arus kas yang lemah dan risiko bisnis yang meningkat. Penurunan peringkat ini menambah tekanan bagi perusahaan yang membutuhkan pendanaan besar untuk membangun pusat data.

Kritik juga datang dari Michael Burry, investor yang dikenal karena memprediksi krisis perumahan Amerika Serikat sebelum kehancuran pasar pada 2008. Burry mengambil posisi yang bertaruh pada penurunan saham Oracle. Menurut laporan Yahoo Finance pada Januari 2026, dia mempertanyakan keputusan perusahaan menambah investasi besar-besaran.

"Oracle tidak perlu melakukan apa yang sedang dilakukannya. Saya tidak menyukai posisi perusahaan ini maupun investasi yang dipilihnya. Saya tidak tahu mengapa mereka melakukannya. Mungkin karena ego," kata Burry.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore