Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Oktober 2026 | 16.34 WIB

“Mereka Bohongi Kami”, Warga Gaza Kecewa Setahun Gencatan Senjata Tak Bawa Kedamaian

Warga Palestina memeriksa bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, pada Jumat, 9 Oktober 2026. (AP)

JawaPos.com - Setahun setelah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) diumumkan di Jalur Gaza, warga Palestina masih belum merasakan kedamaian. Serangan Israel terus berlangsung, jutaan warga belum bisa kembali ke rumah, sementara rekonstruksi wilayah yang hancur akibat perang belum juga terwujud.

Dilansir dari Arab News, Minggu (11/10), Israel memang telah mengurangi intensitas serangannya, tetapi masih melancarkan serangan udara dan kini menguasai sekitar 70 persen wilayah Gaza. Padahal, rencana gencatan senjata mencakup pembangunan kembali wilayah Palestina yang hancur akibat perang.

“Tidak ada yang berubah menjadi lebih baik. Semuanya justru semakin buruk. Mereka membohongi kami, semuanya bohong,” kata Fatima Awkal, seorang perempuan pengungsi di Kota Gaza, kepada AFP.

“Korban jiwa masih terus berjatuhan, orang-orang masih terluka, pengeboman terus berlangsung, dan kami bahkan tidak bisa menikmati ketenangan sejenak karena suara dengung drone yang terus-menerus di atas kepala,” ujarnya.

Di jalanan Kota Gaza, deretan tenda putih berdiri di sepanjang jalur yang telah dibersihkan dari puing-puing rumah hancur. Di kejauhan, bangunan yang masih berdiri memperlihatkan jendela-jendela pecah dan kerusakan parah pada bagian fasadnya.

Ahmed Jonaid, warga Palestina lain yang mengungsi di Kota Gaza, mengaku sempat berharap bisa pulang setelah gencatan senjata diumumkan.

“Kami mengira akan merasakan kebahagiaan dan kembali ke rumah. Namun, yang terjadi justru kami masih menderita di kamp pengungsian dan tidur di atas alas seadanya,” kata pria berusia 51 tahun itu saat membawa dua jeriken air kembali ke tendanya.

Mayoritas warga masih mengungsi

Hampir seluruh dari lebih dari dua juta penduduk Gaza telah mengalami pengungsian setidaknya satu kali selama perang yang pecah setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga pertengahan 2026, sebanyak 82 persen bangunan yang masih berdiri di Gaza mengalami kerusakan atau hancur. Kondisi itu membuat banyak warga tetap tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat.

Kepadatan penghuni dan buruknya sanitasi di tempat-tempat pengungsian turut memicu wabah penyakit. Situasi tersebut memperlihatkan betapa beratnya kondisi kehidupan warga meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama setahun.

Ahmed Shawan, seorang dokter di rumah sakit di Khan Yunis, Gaza selatan, mengatakan dirinya belum melihat dampak nyata gencatan senjata di lapangan.

“Sudah genap satu tahun sejak gencatan senjata diumumkan, tetapi keberadaannya hanya di atas kertas,” katanya.

Transisi politik belum berjalan

Tahap kedua kesepakatan gencatan senjata seharusnya mencakup peralihan pemerintahan dari kelompok Hamas menuju pemerintahan baru yang dipimpin kalangan teknokrat.

Ali Shaath telah ditunjuk sebagai kepala Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG), badan baru yang disiapkan untuk mengelola wilayah tersebut. Namun, Hamas pada praktiknya masih memegang kendali keamanan, sementara Shaath belum banyak tampil di ruang publik.

Editor: Dhimas Ginanjar
Sumber: Arab News
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore