Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 13.51 WIB

Ekonomi Vietnam Dilaporkan Tumbuh 9,95 Persen? Ini Mesin Pendorongnya

Ilustrasi industri otomotif Vietnam. (Vietnam Briefing)

 

JawaPos.com - Pertumbuhan ekonomi Vietnam dilaporkan mencapai 9,95 persen pada kuartal III 2026 karena ditopang kombinasi ekspor yang kuat, investasi infrastruktur, aktivitas industri, konsumsi domestik, dan arus investasi asing. Namun, laju pertumbuhan tersebut juga mulai menghadirkan tekanan baru bagi perekonomian.
 
Pertumbuhan pada periode Juli-September menjadi yang tercepat sejak pandemi Covid-19. Angkanya juga meningkat dari pertumbuhan 8,81 persen pada kuartal II setelah direvisi.
 
Meski hampir menyentuh 10 persen, capaian tersebut masih belum cukup untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi Vietnam sepanjang tahun yang dipatok di atas 10 persen.
 
 
Ekspor Menjadi Salah Satu Penggerak Utama
 
Sebagai negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor, kinerja perdagangan menjadi salah satu faktor penting di balik pertumbuhan Vietnam.
 
Melansir Reuters, pada September, ekspor barang Vietnam tumbuh 39,1 persen secara tahunan menjadi USD 59,48 miliar. Kenaikan tersebut menunjukkan kuatnya permintaan terhadap produk Vietnam di pasar global.
 
Namun, pertumbuhan impor justru lebih tinggi. Nilai impor September mencapai USD 58,21 miliar atau naik 45,8 persen dibandingkan setahun sebelumnya.
 
Secara kumulatif, ekspor selama sembilan bulan pertama mencapai USD 434,30 miliar, naik 24,5 persen. Sementara impor mencapai USD 453,72 miliar, meningkat 36,7 persen.
 
Perbedaan laju tersebut membuat Vietnam mencatat defisit perdagangan USD 19,42 miliar dalam sembilan bulan, yang menjadi rekor tertinggi.
 
Infrastruktur Dikebut untuk Menopang Pertumbuhan
 
 
Faktor berikutnya adalah investasi. Total investasi Vietnam selama sembilan bulan pertama 2026 meningkat 16,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Pemerintah meningkatkan investasi publik di sektor infrastruktur sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
 
Belanja dan pembangunan infrastruktur tersebut menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan dukungan kapasitas produksi dan jaringan infrastruktur yang memadai.
 
Industri dan Investasi Asing Terus Bergerak
 
Sektor industri juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Produksi industri pada September meningkat 16,7 persen secara tahunan.
 
Di sisi investasi asing, arus FDI selama sembilan bulan meningkat 12,1 persen menjadi USD 21,1 miliar.
 
Kinerja tersebut memperkuat peran investasi asing dalam perekonomian Vietnam. ADB juga menilai prospek jangka pendek ekonomi negara tersebut tetap kuat, salah satunya karena ekspansi manufaktur dan keberlanjutan investasi asing langsung.
 
Konsumsi Domestik Ikut Menjadi Penopang
 
 
Selain manufaktur dan ekspor, konsumsi domestik juga menjadi bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi Vietnam.
 
ADB menyebut konsumsi domestik yang kuat sebagai salah satu faktor yang mendukung prospek pertumbuhan Vietnam dalam jangka pendek. Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada permintaan dari luar negeri, tetapi juga ditopang aktivitas ekonomi di dalam negeri.
 
Namun, kuatnya aktivitas ekonomi membawa konsekuensi berupa tekanan harga. Inflasi konsumen Vietnam pada September meningkat 5,08 persen dibandingkan setahun sebelumnya.
 
Harga Energi Menjadi Tantangan
 
Pertumbuhan ekonomi Vietnam juga berlangsung ketika biaya energi mengalami tekanan.
 
Selama sembilan bulan pertama, volume impor minyak mentah Vietnam sebenarnya turun 13,5 persen. Namun, nilai impornya meningkat 14,4 persen.
 
Kondisi yang lebih tajam terlihat pada bahan bakar olahan. Volumenya naik 11,5 persen, tetapi nilai impornya melonjak 79,3 persen.
 
Kenaikan harga energi tersebut ikut memperlebar defisit perdagangan dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
 
Pertumbuhan Cepat Mulai Diikuti Risiko
 
 
ADB memperkirakan ekonomi Vietnam tetap memiliki prospek kuat dalam jangka pendek, tetapi memperingatkan risiko yang dapat muncul dalam jangka panjang.
 
Permintaan global yang melemah dan ketidakpastian eksternal dapat menekan pertumbuhan. Sementara kenaikan harga energi dan kondisi keuangan global yang lebih ketat berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar.
 
Laura Schwartz, senior Asia analyst di Verisk Maplecroft, juga melihat adanya kekhawatiran bahwa ekonomi Vietnam dapat tumbuh terlalu panas, terutama karena inflasi mengalami percepatan dalam beberapa bulan terakhir.
 
"Potensi kekurangan listrik dalam jangka pendek dan menengah juga akan menimbulkan tantangan yang signifikan," kata Schwartz.
 
Dengan demikian, pertumbuhan 9,95 persen pada kuartal III bukan hanya menggambarkan kuatnya ekonomi Vietnam. 
 
Angka tersebut juga memperlihatkan tantangan berikutnya: menjaga ekspor, investasi, industri, dan konsumsi tetap bergerak sambil mengendalikan inflasi, biaya energi, serta kebutuhan listrik dan infrastruktur.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore