Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 September 2026 | 14.09 WIB

Jepang, AS, dan Korsel Desak Korea Utara Kembali Berdialog soal Nuklir

(Dari kanan) Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun berpose untuk foto di New York pada 21 September 2026. (Kyodo) - Image

(Dari kanan) Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun berpose untuk foto di New York pada 21 September 2026. (Kyodo)

JawaPos.com - Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Korea Selatan mendesak Korea Utara kembali ke meja dialog, meskipun Pyongyang belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan ambisi nuklirnya. Ketiga negara juga menegaskan komitmen untuk menghadapi praktik "paksaan ekonomi" yang secara tersirat ditujukan kepada Tiongkok.

Dilansir dari Kyodo, Selasa (22/9), seruan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun melalui pernyataan bersama setelah pertemuan di New York, Amerika Serikat.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 40 menit itu digelar di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketiga diplomat tersebut menegaskan kembali "komitmen teguh" untuk mewujudkan denuklirisasi Korea Utara secara menyeluruh.

Korea Utara selama ini berupaya mendapatkan pengakuan sebagai negara pemilik senjata nuklir. Pyongyang bahkan menjadikan pengakuan atas status tersebut sebagai salah satu prasyarat untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump, ketika kembali membuka pendekatan diplomatik kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada bulan lalu, menyebut negara Asia tersebut memiliki setidaknya "57 senjata nuklir yang sangat kuat". Namun, pemerintahan Trump, Jepang, dan Korea Selatan tetap menolak memberikan pengakuan status negara berkekuatan nuklir kepada Pyongyang.

Tegaskan Penolakan terhadap Perubahan Status Taiwan

Dalam pertemuan tersebut, ketiga menteri luar negeri juga menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Mereka menyatakan penolakan terhadap segala upaya untuk mengubah status quo secara sepihak.

Mengenai keamanan ekonomi, ketiganya menyatakan tekad untuk menghadapi praktik yang menimbulkan "kelebihan kapasitas yang merugikan dan distorsi pasar". Pernyataan itu mencakup pembatasan ekspor sepihak yang dapat mengganggu rantai pasok, meskipun Tiongkok tidak disebutkan secara langsung.

Jepang, AS, dan Korea Selatan sepakat meningkatkan koordinasi trilateral di bidang-bidang strategis ekonomi, termasuk energi, mineral kritis, dan kecerdasan buatan (AI).

Pertemuan tersebut berlangsung menjelang kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Washington pada Rabu (23/9). Xi dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari.

Dalam beberapa hari sebelum rangkaian pertemuan tingkat tinggi di New York selama agenda tahunan PBB, Korea Utara yang memiliki hubungan dekat dengan Tiongkok dan Rusia kembali menguji tembak sejumlah rudal balistik ke arah Laut Jepang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Sumber: Kyodo News
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore