Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 22.29 WIB

Bos Teknologi Inggris Sebut AI Bisa Bantu Sembuhkan Kanker, Tapi Terhambat Kekurangan Cip

Rene Haas, CEO Arm Holdings, berbicara tentang perkembangan AI dan tantangan pasokan cip (BBC) - Image

Rene Haas, CEO Arm Holdings, berbicara tentang perkembangan AI dan tantangan pasokan cip (BBC)

JawaPos.com - CEO Arm Holdings Rene Haas menilai kecerdasan buatan (AI) berpotensi menemukan pengobatan kanker yang saat ini berada di luar kemampuan manusia. Namun, ambisi tersebut menghadapi kendala ironis: keterbatasan cip untuk membangun pusat data yang menjadi infrastruktur utama pengembangan AI.

Haas mengatakan pemodelan sel, tubuh manusia, hingga dampak penanda DNA akibat kanker masih terlalu kompleks bagi komputer saat ini. Menurutnya, peningkatan model dan kemampuan komputasi akan mengubah batas tersebut.

Dilansir dari BBC, Selasa (8/9/2026), Haas mengatakan, "AI akan menemukan obat untuk kanker yang saat ini tidak dapat ditemukan oleh manusia, dalam masa hidup kita. Saya percaya AI akan membantu menyembuhkan kanker."

Menurutnya, tantangan pengembangan teknologi tersebut terletak pada kompleksitas biologis yang harus dipahami AI. "Memodelkan sel, memodelkan manusia, memodelkan bagaimana penanda DNA dipengaruhi kanker merupakan masalah yang terlalu kompleks," ujarnya.

Meski demikian, klaim itu bukan berarti AI sudah dekat dengan obat kanker universal. Haas menjelaskan, "Ke depan, ketika kita memasukkan semakin banyak model ke komputer-komputer ini dan komputer menjadi semakin canggih untuk menjalankan model tersebut, mereka akan memecahkannya."

Namun, optimisme tersebut tetap menghadapi tantangan dalam penerapannya di bidang medis. Chris Bakal dari Institute of Cancer Research London menekankan bahwa persoalan utama AI medis terletak pada kualitas data. "Pertanyaan sebenarnya bukan lagi apakah kita menggunakan AI, melainkan apa yang kita masukkan ke dalamnya."

"Ini bukan data yang diambil dari internet. Ini tidak membutuhkan pusat data raksasa untuk dijalankan. Masa depan AI medis tidak akan menjadi milik siapa pun yang membangun komputer terbesar. Masa depan itu akan menjadi milik siapa pun yang memiliki pengukuran yang tepat," ujar Bakal. Menurutnya, prediksi semacam itu dapat memangkas waktu pengembangan pengobatan baru hingga bertahun-tahun.

Di sisi lain, Haas memperingatkan ekspansi AI kini tertahan pasokan cip. Dia menyebut dunia berada dalam "lingkungan yang benar-benar dibatasi pasokan" dan mengatakan lebih banyak pabrik cip diperlukan sebelum pusat data bahkan dapat dibangun di ruang angkasa. Arm Holdings sendiri memasok desain arsitektur cip hemat energi yang digunakan pada sekitar separuh pusat data AI di dunia.

Tekanan permintaan juga terlihat dari bisnis baru Arm Holdings. Meta meminta perusahaan tersebut mengembangkan cip Arm AGI dengan nilai pesanan lebih dari USD 2 miliar atau sekitar Rp35,32 triliun, berdasarkan kurs Rp17.660 per dolar AS.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore