Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 03.05 WIB

Perang Iran Pangkas Emisi Tiongkok, Konsumsi Minyak Anjlok Saat Kendaraan Listrik Melaju

Krisis minyak akibat perang Iran justru mempercepat laju elektrifikasi Tiongkok / Foto: (The Guardian) - Image

Krisis minyak akibat perang Iran justru mempercepat laju elektrifikasi Tiongkok / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Krisis geopolitik di Timur Tengah justru menyoroti perubahan besar dalam peta energi global. Ketika pasokan minyak melalui Selat Hormuz terguncang akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, Tiongkok mampu memangkas konsumsi minyak tanpa mengorbankan mobilitas. Perkembangan ini memunculkan harapan bahwa ekonomi penghasil emisi terbesar dunia itu mulai mendekati titik balik dekarbonisasi.

Pada kuartal kedua 2026, emisi karbon dioksida Tiongkok turun 1 persen. Penurunan tersebut terutama didorong oleh merosotnya penggunaan minyak, di tengah kenaikan penggunaan kendaraan listrik dan transportasi umum. Yang paling penting, ini menjadi pertama kalinya penurunan emisi nasional Tiongkok terutama dipicu oleh berkurangnya konsumsi minyak, bukan batu bara. 

Dilansir dari The Guardian, Jumat (4/9/2026), data energi kuartal kedua dari Biro Statistik Nasional Tiongkok yang dianalisis Centre for Research on Energy and Clean Air menunjukkan negara itu bahkan mampu meningkatkan penggunaan transportasi secara keseluruhan meskipun impor minyaknya anjlok 32 persen. Penurunan tersebut setara sekitar satu juta barel per hari. 

Bagi pasar global, perubahan ini sangat signifikan. Berkurangnya pembelian dari importir minyak terbesar dunia membantu menahan tekanan harga minyak internasional, meskipun harga tetap melonjak sekitar 60 persen dalam beberapa minggu dan bulan setelah serangan udara pertama Amerika Serikat pada akhir Februari. Sekitar dua pertiga penurunan impor berasal dari pelepasan cadangan minyak strategis, sedangkan sepertiganya mencerminkan penurunan permintaan nyata.

Konsumsi minyak Tiongkok secara keseluruhan turun 9 persen, sementara penggunaan untuk transportasi merosot 16 persen. Pada saat banyak kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel berkurang penggunaannya, perjalanan dengan mobil listrik, bus, kereta api, dan truk listrik justru meningkat. Analisis lain menunjukkan penggunaan kendaraan listrik menjadi faktor utama dalam perubahan struktural tersebut. 

Peralihan ini sebenarnya telah berlangsung sebelum krisis Selat Hormuz. Tiongkok kini menjadi produsen, pengguna, sekaligus eksportir utama baterai, kendaraan listrik, turbin angin, dan panel surya. Gangguan pasokan minyak dari Teluk Persia kemudian memperkuat alasan ekonomi dan strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak.

Pada semester pertama 2026, peralihan menuju kendaraan listrik disebut telah menggantikan konsumsi minyak dalam jumlah yang setara dengan seluruh penggunaan minyak Inggris selama enam bulan. Karena itu, sejumlah analis memperkirakan sebagian permintaan minyak yang hilang tidak akan sepenuhnya kembali bahkan apabila harga minyak mentah dunia kembali turun.

Lauri Myllyvirta, analis utama Centre for Research on Energy and Clean Air, mengatakan percepatan perubahan di sektor transportasi sudah semakin jelas. “Secara kualitatif, tidak diragukan lagi bahwa dekarbonisasi sektor transportasi telah dipercepat. Ini merupakan pembuktian terhadap strategi keamanan energi yang telah diterapkan Tiongkok,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa elektrifikasi mulai berfungsi bukan hanya sebagai pilihan teknologi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat ketahanan energi. “Sangat jelas bahwa elektrifikasi adalah strategi yang unggul untuk melindungi diri dari berbagai guncangan semacam ini.”

Namun, transisi tersebut belum berarti Tiongkok telah meninggalkan bahan bakar fosil. Produksi listrik berbasis batu bara justru meningkat pada kuartal tersebut karena perubahan insentif ekonomi dan keterlambatan penyesuaian jaringan listrik yang menyebabkan energi angin serta surya terbuang. Meski demikian, tren jangka panjang dinilai tetap bergerak menjauhi bahan bakar fosil. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore