Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Agustus 2026 | 14.31 WIB

Goldman Sachs: Sektor Energi AS Kekurangan 500.000 Pekerja hingga 2030, Robot Humanoid Jadi Opsi

Ledakan AI mendorong sektor energi AS tumbuh pesat, tetapi kekurangan pekerja menjadi tantangan utama / Foto: (Fortune) - Image

Ledakan AI mendorong sektor energi AS tumbuh pesat, tetapi kekurangan pekerja menjadi tantangan utama / Foto: (Fortune)

JawaPos.com — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong pembangunan pusat data dan infrastruktur listrik di Amerika Serikat (AS). Namun, ekspansi tersebut terbentur persoalan tenaga kerja. Goldman Sachs memperkirakan rantai pasok listrik dan jaringan listrik AS membutuhkan sekitar 500.000 pekerja tambahan hingga 2030.

Kesenjangan itu sulit ditutup dengan cepat karena pekerjaan teknis di sektor energi umumnya membutuhkan tiga hingga empat tahun pelatihan. Pada 2024, jalur pemagangan energi hanya memiliki 45.000 peserta, sementara industri membutuhkan sekitar 65.000 tenaga baru setiap tahun. Lonjakan kebutuhan listrik untuk AI berpotensi memperlebar kesenjangan tersebut.

Dilansir dari Fortune, Kamis (27/8/2026), Goldman Sachs menyebut persoalan tenaga kerja kini menjadi kendala struktural bagi ekspansi infrastruktur energi. “Listrik merupakan hambatan kritis, tetapi semakin jelas bahwa tenaga kerja yang dibutuhkan juga menjadi kendala struktural tersendiri. Tenaga kerja teknis yang membangun, memasang kabel, mendinginkan, dan mengamankan infrastruktur ini sangat dibutuhkan, sementara pelatihan tidak dapat berlangsung secepat modal yang dikucurkan.”

Sektor energi AS sebenarnya mempekerjakan sekitar 8,5 juta orang pada 2024, dengan upah median USD 58.810 atau sekitar Rp1,04 miliar per tahun, berdasarkan kurs Rp17.770 per dolar AS. Produksi bahan bakar tradisional rata-rata membayar USD 65.400, sedangkan operator pembangkit listrik mencapai sekitar USD 103.600. Banyak pekerjaan tersebut tidak memerlukan gelar perguruan tinggi karena pelatihan khusus dan pengalaman kerja lebih diutamakan.

Karena itu, physical AI, termasuk robot humanoid, mulai dipandang sebagai salah satu cara mengatasi keterbatasan tenaga manusia. Goldman Sachs menyebut meningkatnya minat terhadap humanoid “berpusat pada kebutuhan akan tenaga kerja”. Di manufaktur AS, lebih dari satu juta pekerjaan penanganan material masih belum terisi, memperkuat dorongan terhadap otomasi.

Prospek pasarnya pun berkembang pesat. Goldman Sachs memperkirakan jumlah robot humanoid meningkat dari sekitar 20.000 unit pada 2025 menjadi 1,4 juta unit pada 2035, atau naik sekitar 6.900 persen. Pengembang Tiongkok seperti Unitree dan UBTECH dinilai telah membuat kemajuan, sementara penggunaan komersial secara luas diperkirakan mulai terjadi pada 2027–2029.

Otomatisasi sebenarnya sudah masuk ke sejumlah pekerjaan fisik. Sistem lapangan Deere dan platform pertambangan Caterpillar telah digunakan, sementara Amazon mengembangkan robot gudang otonom Proteus. Tesla juga memakai robot humanoid Optimus di fasilitas manufakturnya untuk sejumlah tugas awal, termasuk pekerjaan perakitan.

Meski demikian, robot belum menjadi pengganti pekerja dalam skala besar. Pengembangan robot dan fasilitasnya membutuhkan waktu serta modal besar. Investor juga masih kekurangan data historis untuk menilai kelayakan finansial proyek tersebut, sedangkan perusahaan masih mencari cara paling efektif untuk mengoperasikan humanoid secara massal.

Di sisi lain, Barclays memperkirakan pasar robot humanoid yang kini bernilai sekitar USD 3 miliar atau Rp53,31 triliun dapat mencapai USD 200 miliar atau Rp3.554 triliun pada 2035. Zornitza Todorova, kepala riset tematik FICC Barclays, mengatakan kepada CNBC, “Saya pikir kita berada di ambang sebuah transformasi, dan kita baru menggaruk permukaan dari apa yang dapat dilakukan robot humanoid.” Menurutnya, model yang semakin cepat merespons situasi secara waktu nyata akan memperluas penggunaan robot.

Sementara AS masih menghadapi kekurangan tenaga kerja, Tiongkok telah menerapkan robot di sektor energi. Pada 2022, robot digunakan untuk memperbaiki jaringan listrik di Wuhan dan robot humanoid menjalankan inspeksi di fasilitas energi Guangzhou. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore