
Tambang Bitcoin Ekibastuz di Kazakhstan dibuka pada 2020 dan sempat menjadi simbol pesatnya kebangkitan industri mata uang kripto. / BBC
JawaPos.com — Demam investasi kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah peta industri kripto. Perusahaan yang sebelumnya membangun pusat data berisi ribuan komputer untuk menambang Bitcoin kini mengalihkan listrik, lahan, dan kapasitas komputasinya untuk melayani kebutuhan AI. Perubahan ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang dahulu dibangun untuk aset digital kini menjadi bagian dari perlombaan komputasi AI global.
Perubahan tersebut didorong oleh melemahnya ekonomi penambangan Bitcoin. Harga Bitcoin sempat mencapai sekitar USD 124.000 atau Rp2,19 miliar dengan kurs Rp17.700 per dolar AS pada Oktober 2025, sebelum jatuh tajam. Meski kembali naik ke sekitar USD 80.000 atau Rp1,42 miliar dan telah menguat hampir 30 persen sepanjang Agustus, imbal hasil penambangan tetap menghadapi tekanan karena hadiah bagi penambang telah berkurang.
Dilansir dari BBC, Rabu (26/8/2026), perusahaan tambang Bitcoin kini semakin banyak beralih ke AI dan menandatangani kontrak dengan perusahaan seperti Anthropic yang membutuhkan miliaran dolar untuk membangun infrastruktur komputasi. Riot Platforms, TerraWulf, Ionic Digital, Core Scientific, Iris Energy, Bitdeer, dan Hut 8 termasuk perusahaan yang mengalihkan investasi serta infrastrukturnya ke sektor tersebut.
Secara teknis, peralihan itu masuk akal karena penambangan Bitcoin dan AI sama-sama membutuhkan jaringan komputer berdaya besar di pusat data. Penambang Bitcoin juga telah bertahun-tahun mencari listrik murah dan mengoperasikan fasilitas berskala besar secara efisien. Riot, misalnya, meneken kontrak komputasi senilai USD 9 miliar atau Rp159,3 triliun selama 20 tahun dengan Anthropic pada Agustus. TeraWulf sebelumnya juga menyepakati kontrak 20 tahun dengan Anthropic senilai sekitar USD 19 miliar atau Rp336,3 triliun.
Namun, transformasi tersebut bukan sekadar mengganti perangkat. Perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk menyesuaikan fasilitas penambangan dengan kebutuhan AI dan komputasi berkinerja tinggi. Sebagian bahkan menjual kepemilikan Bitcoin untuk membiayai perubahan itu. Applied Blockchain mengubah nama menjadi Applied Digital, sementara TerraWulf mengubah deskripsi bisnisnya dari perusahaan penambangan Bitcoin menjadi penyedia “AI generasi berikutnya dan komputasi berkinerja tinggi”.
Di Kazakhstan, Enegix juga mengubah arah setelah sebelumnya membuka fasilitas penambangan Bitcoin besar pada 2020. CEO Enegix Yerbolsyn Sarsenov mengatakan, “Saat ini, kami bergerak dengan penuh keyakinan menuju industri kecerdasan buatan dan merencanakan penyesuaian bertahap kemampuan energi serta infrastruktur kami, baik di Kazakhstan maupun di tempat lain, untuk pengembangan infrastruktur AI.” Perusahaan itu tengah berdiskusi dengan perusahaan AI dan HPC serta berencana mengalihkan bagian signifikan bisnisnya.
Perubahan tersebut bahkan mendorong industri mengubah identitasnya. The Miner Mag berganti nama menjadi The Energy Mag untuk mencerminkan pergeseran tersebut. Analis Wolfie Zhao memperkirakan tren ini berlanjut meski harga Bitcoin kembali menguat. “Kami memperkirakan banyak perusahaan penambangan publik akan terus mengurangi perangkat keras penambangan Bitcoin dalam beberapa kuartal mendatang,” ujarnya kepada BBC.
Menurut Zhao, pergeseran ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan dan stabilitas jaringan Bitcoin karena semakin banyak kapasitas penambangan dapat keluar dari jaringan. Dia berharap penambang baru masuk ketika kondisi membaik. Namun, dia menilai pemain besar yang telah beralih ke AI akan sulit kembali. “Begitu infrastruktur listrik multigigawatt tersebut diubah untuk AI atau kolokasi HPC, tidak ada jalan untuk kembali,” katanya.
Pasalnya, kontrak AI menawarkan pendapatan yang lebih panjang dan dapat diprediksi. “Anda dapat memutuskan sambungan dari jaringan Bitcoin kapan saja, tetapi menandatangani kontrak kolokasi GPU selama 10 atau 20 tahun berarti pendapatan yang stabil dan komitmen untuk mempertahankan infrastruktur bagi penyewa,” kata Zhao. Bitdeer, yang mengklaim sebagai penambang Bitcoin terbesar di dunia, juga baru mengumumkan kesepakatan 16 tahun untuk menyediakan komputasi bagi Anthropic.
Meski demikian, Bitdeer tidak sepenuhnya meninggalkan Bitcoin. Chief Strategy Officer Bitdeer Haris Basit menilai model bisnis ganda tetap memungkinkan. “Penambangan Bitcoin sangat cocok untuk model tersebut karena fleksibel dan dapat dihentikan sementara, sedangkan beban kerja AI dapat memberikan pendapatan berdasarkan kontrak dengan durasi lebih panjang,” ujarnya. Pergeseran ini akhirnya bukan sekadar perpindahan dari kripto ke AI, melainkan perebutan atas aset yang sama: listrik, pusat data, dan kapasitas komputasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Elche di Liga Spanyol 2026/2027: Tuan Rumah Kunci 3 Poin!
Prediksi Skor Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Sengit, Berakhir Imbang?
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol: Babazorros Bisa Buat Kejutan
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur
Prediksi Skor Fulham vs AFC Wimbledon di EFL Cup 2026/2027: Misi Bangkit The Cottagers
Tak Terbukti Terima Uang dan Perkaya Diri Sendiri, Eks Kabaranahan Kemhan Tetap Dihukum 2,5 Tahun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor CSKA Sofia vs OFI Crete di Kualifikasi Liga Europa 2026/2027: Kans Lolos O Ómilos!
