Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 22.54 WIB

Rencana Pusat Data Antariksa Musk dan Bezos Diprotes, Kekhawatiran Bergeser dari AI ke Krisis Lingkungan Orbit

Elon Musk dan Jeff Bezos, pendiri perusahaan antariksa SpaceX dan Blue Origin / Foto: (The Guardian) - Image

Elon Musk dan Jeff Bezos, pendiri perusahaan antariksa SpaceX dan Blue Origin / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Ambisi perusahaan teknologi membangun pusat data di luar angkasa memicu penolakan baru. Rencana SpaceX milik Elon Musk, Blue Origin milik Jeff Bezos, dan sejumlah perusahaan lain untuk menempatkan pusat data di orbit Bumi dinilai para ilmuwan berisiko mencemari atmosfer serta memperburuk kerusakan lingkungan.

Rencana tersebut mencakup peluncuran jutaan satelit yang akan berfungsi sebagai orbital datacenters dan masih menunggu persetujuan Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat. Menurut para pengkritik, proyek itu bukan hanya persoalan pengembangan teknologi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan berskala global.

Dilansir dari The Guardian, Sabtu (25/7/2026), organisasi Public Employees for Environmental Responsibility (PEER), Earthjustice, dan DarkSky International mengajukan petisi kepada FCC agar menghentikan sementara penerbitan izin baru bagi proyek pusat data antariksa. Mereka menilai rencana tersebut berpotensi melanggar hukum federal karena belum melalui kajian dampak lingkungan yang memadai. 

Dalam petisinya, ketiga organisasi itu menyatakan perusahaan teknologi "menggambarkan rencana mereka dengan istilah yang megah seolah akan mengubah peradaban, tetapi menolak melakukan kajian terhadap dampak teknologi tersebut terhadap lingkungan, ilmu pengetahuan, ekonomi, maupun nilai-nilai lainnya.”

Kekhawatiran utama berasal dari polusi yang dihasilkan saat roket diluncurkan maupun ketika satelit terbakar saat memasuki kembali atmosfer. Proses tersebut melepaskan jelaga hitam, logam tanah jarang, aluminium oksida, merkuri, nitrogen oksida, karbon monoksida, hingga gas klorin ke lapisan stratosfer. Dampak jangka panjang dari akumulasi polutan tersebut hingga kini masih belum dipahami sepenuhnya, tetapi sejumlah ilmuwan memperingatkan bahwa kondisi itu dapat mengganggu lapisan ozon, meningkatkan paparan radiasi ultraviolet, serta memperburuk krisis iklim.

Selain pencemaran atmosfer, jutaan satelit tambahan juga diperkirakan memperparah polusi cahaya. Ruskin Hartley, Direktur Eksekutif DarkSky International, menegaskan, "Proyek-proyek ini dapat mengubah langit malam secara permanen sebagaimana yang kita kenal. FCC harus menjalankan kewajibannya secara serius untuk memastikan proyek-proyek ini tidak menimbulkan kerusakan yang tidak perlu terhadap langit malam yang alami."

Mantan Kepala Kantor Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Steve Volz, juga mempertanyakan manfaat lingkungan dari proyek tersebut. Menurutnya, "Benda-benda ini mengandung banyak material yang kompleks. Sekalipun terbakar saat kembali ke atmosfer, kita tentu tidak ingin memenuhi atmosfer dengan limbah dari satelit-satelit itu, sama seperti kita tidak ingin limbah tersebut keluar dari cerobong asap."

Sementara itu, Cole Donovan, mantan pakar kebijakan antariksa NOAA yang kini bergabung dengan organisasi Stand Up for Science, menyoroti persoalan lain. Dia mengingatkan bahwa pembangunan pusat data di orbit akan membutuhkan logam tanah jarang dan berbagai sumber daya yang saat ini sudah terbatas. Dengan demikian, tekanan terhadap lingkungan tidak hanya terjadi di luar angkasa, tetapi juga pada proses penambangan dan rantai pasok di Bumi.

Jumlah satelit aktif sendiri meningkat sangat pesat, dari sekitar 1.400 unit pada 2015 menjadi sekitar 15.000 satelit saat ini. Dalam satu dekade mendatang jumlah tersebut diperkirakan dapat mencapai 100.000 satelit, belum termasuk jaringan pusat data antariksa yang diusulkan. Saat ini, sebagian besar polusi satelit berasal dari konstelasi internet Starlink milik SpaceX dan jaringan satelit Amazon.

Petisi itu juga menilai permohonan yang diajukan perusahaan-perusahaan teknologi belum memberikan penjelasan memadai mengenai upaya mitigasi dampak lingkungan. SpaceX, misalnya, menyatakan proyeknya bertujuan "memastikan masa depan umat manusia sebagai spesies multi-planet di antara bintang-bintang," tetapi hanya menyebut akan mengembangkan langkah pengurangan tingkat kecerahan satelit tanpa rincian teknis yang jelas. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore