
Pengunjung melintas di depan stan Alibaba dalam China International Supply Chain Expo ke-3 di Beijing, Tiongkok / Foto: (Euro News)
JawaPos.com — Alibaba mengklaim model kecerdasan buatannya, Qwen3.8-Max, mampu menangani tugas kompleks tanpa pengawasan manusia selama prosesnya berlangsung. Tim Qwen menyebut model terbaru itu dirancang untuk menangani pemrograman, penelitian, serta pekerjaan teknis yang membutuhkan banyak tahapan dan waktu penyelesaian panjang.
Dalam salah satu pengujian, Qwen3.8-Max disebut menghabiskan “sekitar lima hari atau 125 jam upaya berkelanjutan” untuk membangun kembali eksperimen dari sebuah makalah penelitian matematika sejak awal, kemudian memperbaikinya. Pada pengujian berbeda, model tersebut mengikuti kompetisi daring yang diikuti 526 tim manusia dengan batas waktu 24 jam. Qwen menyatakan hanya 68 tim yang berhasil mengunggulinya.
Dilansir dari Euronews, Selasa (4/8/2026), tim Qwen menggambarkan versi terbaru tersebut sebagai model dengan “peningkatan menyeluruh dalam pemrograman, pekerjaan, penelitian, dan tugas dengan rentang waktu panjang”. Klaim itu menempatkan Qwen3.8-Max pada wilayah kemampuan yang juga sedang dikejar Anthropic melalui model Claude, meski hasil pengujian Alibaba belum diverifikasi secara independen.
Dari sisi teknis, Reuters melaporkan Qwen3.8-Max memiliki 2,4 triliun parameter dan menggunakan arsitektur mixture-of-experts. Hanya sekitar 95 miliar parameter yang diaktifkan dalam satu waktu. Alibaba juga menyebut model tersebut mampu mengerjakan proyek rekayasa perangkat lunak selama 16 hari, sebuah klaim yang memperlihatkan fokus perusahaan pada tugas dengan rentang pengerjaan panjang.
Qwen3.8-Max turut bersaing dengan model Tiongkok lain, termasuk Kimi K3 dari Moonshot AI yang memiliki 2,8 triliun parameter. Keduanya dapat memproses teks, gambar, dan video serta menangani konteks hingga satu juta token. Di Arena.AI, Qwen3.8-Max menjadi model Tiongkok dengan peringkat tertinggi untuk kemampuan teks, walaupun masih berada di bawah Claude Fable 5 dan sejumlah varian Opus. Dalam analisis visual, model Alibaba berada di posisi kedua dunia.
Posisi tersebut sekaligus memperlihatkan mengapa kemampuan Qwen3.8-Max mulai dibandingkan dengan produk Anthropic. Perusahaan Amerika itu lebih dulu mengembangkan sejumlah layanan untuk pekerjaan yang dapat berlangsung lebih lama. Claude Code, misalnya, dapat membaca perangkat lunak, merencanakan perbaikan, menguji hasil, dan menjalankan proses dengan sedikit masukan manusia. Sementara itu, Claude Cowork dirancang untuk menangani pekerjaan seperti riset, pengolahan lembar kerja, dan penyusunan draf.
Di tengah persaingan kemampuan tersebut, Alibaba memilih jalur distribusi yang berbeda. Perusahaan menyediakan bobot Qwen3.8-Max secara terbuka, yakni parameter inti yang membentuk kemampuan model dalam memproses informasi, sehingga pengembang dapat mengakses dan memeriksanya. Dengan demikian, model tersebut dapat dipelajari, diuji, dan dikembangkan oleh pihak di luar Alibaba.
Pilihan itu juga datang ketika perusahaan-perusahaan AI Tiongkok masih menghadapi pembatasan Amerika Serikat atas ekspor cip canggih. Washington berupaya membatasi akses ke perangkat keras yang digunakan untuk mengembangkan sistem AI berkemampuan tinggi. Namun, Alibaba tetap mengembangkan Qwen dengan kapasitas besar, sekaligus membuka bobot modelnya kepada pengembang.
Menurut Lian Jye Su, kepala analis Omdia, model dengan bobot terbuka dapat menarik pengguna karena kebutuhan perusahaan tidak selalu sama dengan kebutuhan untuk mengejar skor tertinggi. “Banyak alur kerja bisnis tidak membutuhkan model terbaik di industri,” kata Su kepada Reuters. “Mereka membutuhkan model yang cukup baik, terjangkau, transparan, dan mudah diakses, dan model dengan bobot terbuka membantu memenuhi kebutuhan itu.”
Pada akhirnya, klaim tersebut masih menunggu pembuktian di luar pengujian internal Alibaba. Jika hasilnya dapat direplikasi secara independen, Qwen3.8-Max akan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk bersaing dengan model Amerika, bukan hanya dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan panjang, tetapi juga dari efisiensi komputasi dan keterbukaan bobot model kepada pengembang.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
