Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Juli 2026 | 05.45 WIB

Bambu Jadi Senjata Baru Tiongkok Perkuat 'Tembok Hijau' Lawan Perluasan Gurun

Peneliti Tiongkok mengembangkan bambu sebagai penghalang pasir baru untuk memperkuat upaya melawan gurunisasi (SCMP) - Image

Peneliti Tiongkok mengembangkan bambu sebagai penghalang pasir baru untuk memperkuat upaya melawan gurunisasi (SCMP)

JawaPos.com - Setelah puluhan tahun menggunakan berbagai metode pengendalian pasir untuk menahan laju gurunisasi, para ilmuwan Tiongkok kini mengembangkan pendekatan baru dengan memanfaatkan bambu. Tanaman yang dikenal sebagai salah satu tumbuhan dengan pertumbuhan tercepat di dunia itu dinilai memiliki potensi untuk memperkuat proyek ambisius Great Green Wall atau Program Hutan Pelindung Tiga Utara yang telah berjalan sejak dekade 1970-an.

Program tersebut bertujuan membendung perluasan gurun di wilayah utara, barat laut, dan timur laut Tiongkok yang menghadapi ancaman degradasi lahan akibat perubahan iklim, penggundulan hutan, serta aktivitas manusia. Selama beberapa dekade, pemerintah Tiongkok membangun jaringan hutan, semak, dan tanaman lain yang membentang ribuan kilometer, termasuk menggunakan pola kotak dari jerami untuk menstabilkan pasir.

Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (28/7/2026), para peneliti dari Research Institute of Wood Industry di bawah Chinese Academy of Forestry di Beijing tengah mengembangkan pemanfaatan bambu sebagai alternatif pengendali pasir yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan. Peneliti Yu Yanglun mengatakan metode lama memiliki sejumlah keterbatasan.

"Karena sifat alami material tersebut, periode efektif pengikatan pasir biasanya hanya dua hingga tiga tahun," tulis Yu dalam artikel yang dipublikasikan di media sosial pada 30 Juni.

Selain jerami, penghalang plastik juga pernah digunakan untuk menjaga kestabilan pasir. Namun, Yu memperingatkan bahwa material tersebut memiliki risiko ekologis karena membutuhkan waktu lama untuk terurai.

Sementara itu, penanaman pohon dan semak tertentu seperti Artemisia juga dikaitkan dengan meningkatnya masalah alergi serbuk sari di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap solusi pengendalian pasir yang lebih berkelanjutan.

Dalam menghadapi tantangan itu, para peneliti mengusulkan penggunaan sumber daya bambu Tiongkok yang melimpah. Negara tersebut saat ini memiliki kawasan hutan bambu terbesar di dunia. Selain cepat tumbuh, bambu dikenal kuat, ringan, fleksibel, membutuhkan sumber daya relatif rendah, serta dapat digunakan sebagai bahan terbarukan untuk menggantikan plastik.

Yu menjelaskan bahwa timnya sedang mengembangkan berbagai aplikasi bambu untuk mengatasi gurunisasi, mulai dari penghalang pasir hingga wadah berbahan bambu dan serat kayu untuk membantu mengumpulkan air hujan. Penelitian tersebut menghasilkan pengembangan bambu yang diproses dan dianyam menjadi pola kotak serta penghalang vertikal untuk menahan pergerakan pasir.

Menurut laporan administrasi kehutanan dan padang rumput Tiongkok, penghalang pasir berbahan bambu memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan plastik.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore