
Jensen Huang, CEO Nvidia Corp, di tengah sorotan industri kecerdasan buatan global / Foto: Fortune
JawaPos.com — Ledakan industri kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah persaingan teknologi global, tetapi juga memunculkan perdebatan baru mengenai bagaimana keuntungan besar dari sektor tersebut seharusnya dibagikan.
Di tengah diskusi itu, CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan pandangan yang tegas: perusahaan perlu membayar karyawan setinggi mungkin ketika kondisi bisnis memungkinkan.
Pandangan tersebut menarik perhatian karena disampaikan oleh pemimpin perusahaan yang saat ini berada di jantung revolusi AI dunia. Nvidia telah menjadi pemasok utama cip untuk pusat data dan pengembangan kecerdasan buatan, menjadikannya salah satu perusahaan dengan pertumbuhan paling pesat dalam sejarah industri teknologi modern.
Huang menyampaikan pandangan tersebut saat menjawab pertanyaan mengenai sengketa bonus antara Samsung Electronics dan serikat pekerjanya dalam konferensi pers di Taipei. Meski menegaskan dirinya bukan ahli dalam hubungan industrial, Huang secara terbuka mengungkapkan filosofi yang diterapkannya di Nvidia.
Baca Juga:Jensen Huang Soroti Lonjakan Kebutuhan Listrik Taiwan, Pemerintah Tambah 5,2 GW Kapasitas Gas
“Saya bukan ahli di bidang itu. Namun, saya pikir orang-orang harus dibayar setinggi mungkin. Tanyakan kepada para karyawan saya—secara harfiah, saya melakukan itu,” ujarnya seperti dikutip Fortune, Rabu (3/6/2026).
Pendiri Nvidia itu kemudian menambahkan bahwa prinsip tersebut telah lama menjadi bagian dari pendekatannya dalam memimpin perusahaan. “Saya membayar karyawan saya setinggi yang saya bisa. Itulah hal yang bisa saya lakukan. Tapi, itu tidak berarti bahwa cara ini pasti benar,” kata Huang.
Komentar Huang juga mencerminkan realitas yang sedang terjadi di Nvidia. Dalam lima tahun terakhir, harga saham perusahaan itu melonjak lebih dari 1.170 persen seiring meningkatnya permintaan global terhadap cip AI. Kenaikan tersebut turut mengangkat nilai kompensasi berbasis saham yang dimiliki banyak karyawan, sehingga sebagian di antaranya berubah menjadi jutawan dalam waktu relatif singkat.
Pada saat yang sama, lonjakan permintaan teknologi AI juga mendorong pertumbuhan bisnis Samsung Electronics. Perusahaan Korea Selatan tersebut merupakan salah satu produsen cip memori utama yang menjadi komponen penting bagi pusat data AI di berbagai negara. Namun, peningkatan keuntungan itu turut memicu tuntutan pekerja agar memperoleh bagian yang lebih besar dari hasil pertumbuhan perusahaan.
Melalui kesepakatan terbaru dengan serikat pekerja, sekitar 60 persen tenaga kerja domestik Samsung berhak menerima bonus sekitar 330.000 dolar AS. Dengan kurs Rp 17.870 per dolar AS, jumlah tersebut setara sekitar Rp 5,9 miliar per orang. Bonus itu didasarkan pada estimasi laba operasional perusahaan yang meningkat seiring tingginya permintaan pasar.
Di luar isu ketenagakerjaan, Huang juga terus memperluas agenda bisnis Nvidia di Asia Timur. Dia dijadwalkan tiba di Korea Selatan pada Jumat pekan ini untuk bertemu sejumlah kelompok usaha besar, termasuk SK Group dan Hyundai. Pertemuan tersebut dilaporkan akan membahas robotika dan pengembangan apa yang disebut Nvidia sebagai kecerdasan buatan fisik, yakni penerapan AI pada mesin dan sistem yang beroperasi di dunia nyata.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
