
Pemangkasan bantuan iklim Amerika Serikat memicu meningkatnya tekanan pendanaan lingkungan di Asia (Fortune)
JawaPos.com - Penurunan komitmen Amerika Serikat dan Eropa terhadap bantuan iklim internasional mulai menciptakan kekosongan serius dalam pendanaan global. Di saat kebutuhan pembiayaan adaptasi dan mitigasi justru meningkat, perhatian kini mengarah ke Asia sebagai kawasan yang berpotensi menutup kesenjangan tersebut melalui kekuatan filantropi dan modal baru.
Ketimpangan pendanaan iklim sudah berlangsung lama. Secara global, kurang dari 2 persen dana filantropi diarahkan untuk mitigasi perubahan iklim, dan hanya sekitar 12 persen dari porsi kecil itu yang masuk ke Asia. Padahal kawasan ini mengalami dampak yang jauh lebih berat, dengan tingkat pemanasan dua kali lipat rata-rata global serta 3,7 miliar penduduk terdampak bencana iklim sejak tahun 2000.
Dilansir dari Fortune, Selasa (26/5/2026), Shaun Seow yang memimpin Philanthropy Asia Alliance (PAA) menilai meningkatnya kepedulian generasi baru filantropis Asia terhadap isu iklim berangkat dari pengalaman langsung terhadap kerusakan lingkungan.
"Banyak pemimpin generasi baru adalah penyelam rekreasi. Mereka melihat terumbu karang yang memutih dan merasa hal itu tidak dapat diterima," ujar Seow di sela Philanthropy Asia Summit.
Di sisi lain, sumber pendanaan internasional mengalami penyusutan signifikan. Pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump menutup Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat dan menghapus lebih dari 40 miliar dolar Amerika Serikat pendanaan proyek iklim global. Prancis memangkas anggaran bantuan pembangunan hingga 40 persen, sementara Jerman menurunkan anggaran bantuan internasional dari 6 miliar euro menjadi 4,58 miliar euro pada tahun 2025.
Jamie Choi, Kepala Eksekutif Tara Climate Foundation, menyebut perubahan ini sebagai titik balik kepemimpinan iklim global.
"Selama ini banyak pihak mengharapkan kepemimpinan iklim datang dari Barat. Kami terbiasa melihat Eropa dan Amerika Serikat sebagai pemimpin, tetapi masa itu sudah berakhir," kata Choi kepada Fortune.
Di tengah penurunan tersebut, Asia justru memasuki fase akumulasi kekuatan finansial baru. Sekitar 5,8 triliun dolar Amerika Serikat kekayaan diperkirakan berpindah tangan di kawasan ini hingga akhir dekade, membuka peluang besar bagi pendanaan iklim berbasis filantropi dan investasi berdampak.
Namun kesenjangan pendanaan masih sangat lebar. Data Center for Impact Investing and Practices mencatat kebutuhan pendanaan adaptasi iklim di Asia mencapai lebih dari 200 miliar dolar Amerika Serikat per tahun, sementara arus pendanaan yang tersedia baru sekitar 19 miliar dolar Amerika Serikat. Hampir separuh dari 165 lembaga pendanaan di Asia telah mulai berinvestasi pada ketahanan iklim, tetapi skala pembiayaan masih jauh dari kebutuhan riil.
Seow menilai situasi ini menunjukkan kegagalan sistem pendanaan global dalam merespons krisis iklim.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
