Ilustrasi biarawati. (Freepik)
JawaPos.com - Serangan tanpa provokasi terhadap seorang biarawati asal Perancis di Yerusalem Timur pekan lalu mengejutkan publik internasional. Namun bagi komunitas Kristen di Israel dan Yerusalem Timur, insiden itu bukanlah kejadian terisolasi, melainkan bagian dari tren kekerasan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sekitar 180.000 umat Kristen yang tinggal di Israel dan sekitar 10.000 lainnya di Yerusalem Timur, banyak yang mengaku kini hidup dalam bayang-bayang intimidasi. Serangan fisik, perusakan properti gereja, hingga pelecehan verbal seperti ludah, hinaan, dan grafiti bernada kebencian semakin sering terjadi, bahkan menjadi pengalaman harian bagi sebagian warga.
Meski pemerintah Israel cepat mengutuk serangan terhadap biarawati tersebut sebagai tindakan keji yang tidak memiliki tempat dalam masyarakat, kepercayaan komunitas Kristen terhadap negara dinilai semakin menipis. Banyak insiden disebut tidak dilaporkan karena minimnya keyakinan bahwa aparat akan bertindak tegas.
Menurut data dari Religious Freedom Data Center (RFDC), dalam tiga bulan pertama tahun ini saja tercatat 31 kasus pelecehan terhadap umat Kristen, sebagian besar berupa aksi meludah dan vandalisme terhadap properti gereja.
Sementara itu, laporan Rossing Center for Education and Dialogue, sebagaimana dikutip via Al-Jazeera mencatat 113 serangan sepanjang tahun lalu, termasuk 61 serangan fisik yang menargetkan tokoh agama seperti pastor, biarawan, dan biarawati.
Direktur program di Jerusalem Center for Jewish-Christian Relations, Hana Bendcowsky, menegaskan bahwa tren ini terus meningkat. “Ini jelas meningkat dalam tiga tahun terakhir. Dulu ada sentimen terhadap Kristen, tetapi tidak diungkapkan secara terbuka seperti sekarang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perubahan iklim politik di Israel yang dinilai turut memicu keberanian pelaku. “Dalam beberapa tahun terakhir, ada rasa bahwa Israel semakin tidak peduli terhadap bagaimana dunia memandangnya. Hal ini membuat sebagian orang merasa lebih bebas untuk melecehkan umat Kristen,” tambahnya.
Perubahan arah politik Israel menuju ultranasionalisme, terutama di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya intoleransi.
Kelompok-kelompok sayap kanan yang sebelumnya berada di pinggiran kini memiliki pengaruh signifikan dalam pemerintahan.
Survei Rossing Center menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku serangan terhadap umat Kristen berasal dari kelompok ultra-Ortodoks dan ultra-nasionalis. Aktivis perdamaian Israel, Rabbi Arik Ascherman, menyebut tindakan ini sebagai bagian dari realitas yang semakin mengkhawatirkan.
“Kebencian terhadap non-Yahudi, khususnya dari sebagian kelompok ekstrem, tampaknya tidak memiliki batas. Dari meludah hingga merusak tempat ibadah, bahkan kebijakan pemerintah yang membatasi masuknya rohaniwan asing, semua itu adalah bagian dari kenyataan saat ini,” katanya.
Bendcowsky juga menyoroti faktor historis dalam relasi Yahudi-Kristen yang masih menyisakan ketegangan. Menurutnya, kurangnya pemahaman terhadap komunitas Kristen dalam sistem pendidikan Israel turut memperkuat stereotip negatif.
Peneliti menilai banyak kasus tidak sampai ke ranah hukum. Selain faktor visa bagi warga asing, kekhawatiran menarik perhatian publik, dan rendahnya kepercayaan terhadap aparat penegak hukum menjadi alasan utama.
“Ada kekurangan kepercayaan yang sangat besar terhadap polisi. Banyak kasus tidak ditindaklanjuti, kecuali jika mendapat sorotan internasional, khususnya dari Amerika Serikat,” kata Bendcowsky.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
