Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Mei 2026 | 23.39 WIB

10 Ribu Umat Kristen di Israel Hidup dalam Bayang-bayang Intimidasi

 

Ilustrasi biarawati. (Freepik)

JawaPos.com - Serangan tanpa provokasi terhadap seorang biarawati asal Perancis di Yerusalem Timur pekan lalu mengejutkan publik internasional. Namun bagi komunitas Kristen di Israel dan Yerusalem Timur, insiden itu bukanlah kejadian terisolasi, melainkan bagian dari tren kekerasan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sekitar 180.000 umat Kristen yang tinggal di Israel dan sekitar 10.000 lainnya di Yerusalem Timur, banyak yang mengaku kini hidup dalam bayang-bayang intimidasi. Serangan fisik, perusakan properti gereja, hingga pelecehan verbal seperti ludah, hinaan, dan grafiti bernada kebencian semakin sering terjadi, bahkan menjadi pengalaman harian bagi sebagian warga.

Meski pemerintah Israel cepat mengutuk serangan terhadap biarawati tersebut sebagai tindakan keji yang tidak memiliki tempat dalam masyarakat, kepercayaan komunitas Kristen terhadap negara dinilai semakin menipis. Banyak insiden disebut tidak dilaporkan karena minimnya keyakinan bahwa aparat akan bertindak tegas.

Menurut data dari Religious Freedom Data Center (RFDC), dalam tiga bulan pertama tahun ini saja tercatat 31 kasus pelecehan terhadap umat Kristen, sebagian besar berupa aksi meludah dan vandalisme terhadap properti gereja.

Sementara itu, laporan Rossing Center for Education and Dialogue, sebagaimana dikutip via Al-Jazeera mencatat 113 serangan sepanjang tahun lalu, termasuk 61 serangan fisik yang menargetkan tokoh agama seperti pastor, biarawan, dan biarawati.

Direktur program di Jerusalem Center for Jewish-Christian Relations, Hana Bendcowsky, menegaskan bahwa tren ini terus meningkat. “Ini jelas meningkat dalam tiga tahun terakhir. Dulu ada sentimen terhadap Kristen, tetapi tidak diungkapkan secara terbuka seperti sekarang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan iklim politik di Israel yang dinilai turut memicu keberanian pelaku. “Dalam beberapa tahun terakhir, ada rasa bahwa Israel semakin tidak peduli terhadap bagaimana dunia memandangnya. Hal ini membuat sebagian orang merasa lebih bebas untuk melecehkan umat Kristen,” tambahnya.

Perubahan arah politik Israel menuju ultranasionalisme, terutama di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya intoleransi.

Kelompok-kelompok sayap kanan yang sebelumnya berada di pinggiran kini memiliki pengaruh signifikan dalam pemerintahan.

Survei Rossing Center menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku serangan terhadap umat Kristen berasal dari kelompok ultra-Ortodoks dan ultra-nasionalis. Aktivis perdamaian Israel, Rabbi Arik Ascherman, menyebut tindakan ini sebagai bagian dari realitas yang semakin mengkhawatirkan.

“Kebencian terhadap non-Yahudi, khususnya dari sebagian kelompok ekstrem, tampaknya tidak memiliki batas. Dari meludah hingga merusak tempat ibadah, bahkan kebijakan pemerintah yang membatasi masuknya rohaniwan asing, semua itu adalah bagian dari kenyataan saat ini,” katanya.

Bendcowsky juga menyoroti faktor historis dalam relasi Yahudi-Kristen yang masih menyisakan ketegangan. Menurutnya, kurangnya pemahaman terhadap komunitas Kristen dalam sistem pendidikan Israel turut memperkuat stereotip negatif.

Peneliti menilai banyak kasus tidak sampai ke ranah hukum. Selain faktor visa bagi warga asing, kekhawatiran menarik perhatian publik, dan rendahnya kepercayaan terhadap aparat penegak hukum menjadi alasan utama.

“Ada kekurangan kepercayaan yang sangat besar terhadap polisi. Banyak kasus tidak ditindaklanjuti, kecuali jika mendapat sorotan internasional, khususnya dari Amerika Serikat,” kata Bendcowsky.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore