Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 April 2026 | 01.09 WIB

Gelombang Panas Global Dorong Sistem Pangan Dunia ke Titik Kritis, PBB Serukan Adaptasi Besar-Besaran

Hasil gandum dan jagung diperkirakan terus menurun seiring kenaikan suhu global di atas 1,5 derajat Celsius. / Foto: (The Guardian) - Image

Hasil gandum dan jagung diperkirakan terus menurun seiring kenaikan suhu global di atas 1,5 derajat Celsius. / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Sistem pangan global kini berada di ambang krisis akibat gelombang panas ekstrem yang semakin sering dan intens, mengancam produksi pertanian, kesehatan ternak, serta mata pencaharian lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Peringatan ini disampaikan dalam laporan bersama Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Meteorological Organization (WMO).

Tekanan terhadap sektor pangan tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga di laut. Gelombang panas laut menurunkan kadar oksigen terlarut, memicu kematian massal ikan dan mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini memperlihatkan kerentanan sistem pangan modern yang sangat bergantung pada stabilitas iklim.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (23/4/2026), para ahli menegaskan bahwa pasokan pangan di sejumlah wilayah kini semakin “didorong ke titik kritis” oleh gelombang panas yang kian sering dan parah. Dalam laporan tersebut disebutkan, petani di wilayah panas seperti India, Asia Selatan, Afrika sub-Sahara tropis, serta Amerika Tengah dan Selatan berpotensi tidak dapat bekerja secara aman hingga 250 hari dalam setahun.

Laporan itu juga menggarisbawahi dampak langsung pada sektor peternakan. Stres akibat paparan suhu tinggi pada ternak mulai terjadi pada kisaran 25 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan angka kematian hewan, menurunkan produksi susu, serta mengurangi kandungan lemak dan protein. Sementara itu, babi dan ayam—yang tidak dapat berkeringat—rentan mengalami gangguan pencernaan, kegagalan organ, hingga syok kardiovaskular.

Selain ternak, tanaman pangan utama juga terdampak signifikan. Produksi mulai menurun pada suhu di atas 30 derajat Celsius akibat kerusakan sel dan produksi racun. Jagung tercatat mengalami penurunan hasil sekitar 10 persen di beberapa wilayah, sementara gandum juga menunjukkan tren penurunan serupa dan diproyeksikan memburuk seiring kenaikan suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius dari era pra industri.

Direktur inisiatif pertanian di World Resources Institute, Richard Waite, menekankan urgensi adaptasi. “Tanpa adaptasi, panas ekstrem akan menurunkan hasil tanaman dan ternak, memaksa perluasan lahan pertanian untuk mempertahankan produksi. Itu akan mendorong emisi lebih tinggi dari perubahan penggunaan lahan,” ujarnya. Dia menambahkan, “Yang dibutuhkan justru sebaliknya: memperluas solusi agar petani dapat mempertahankan dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.”

Sementara itu, Morgan Ody dari La Via Campesina menyoroti dampak sosial yang semakin nyata. “Petani, pekerja pertanian, dan nelayan skala kecil—terutama perempuan dan lansia—sangat rentan terhadap panas ekstrem yang juga mengancam kesehatan dan kehidupan mereka,” katanya. Dia juga menilai sistem pertanian industri turut memperparah krisis karena emisi gas rumah kaca yang tinggi.

Ody menyerukan kompensasi bagi pekerja terdampak, keringanan utang, serta investasi publik dalam langkah adaptasi. Dia juga menekankan pentingnya regulasi keselamatan kerja yang membatasi paparan panas dan mewajibkan penyediaan tempat teduh, waktu istirahat, serta air bagi pekerja.

Di sisi lain, Molly Anderson dari Middlebury College mengingatkan bahwa sistem pangan modern yang bergantung pada sedikit komoditas utama sangat rentan terhadap guncangan iklim. “Risiko kegagalan panen simultan akibat panas ekstrem dapat merambat ke harga pangan, rantai pasok, dan ekonomi,” ujarnya. Dia menegaskan bahwa solusi jangka panjang adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi.

Pandangan serupa disampaikan Tim Lang dari University of London. “Siapa pun yang berpikir perubahan iklim tidak akan berdampak bagi dunia harus berpikir ulang,” ujarnya. Dia memperingatkan bahwa bahkan negara beriklim sedang tidak akan luput dari dampaknya. Perubahan penggunaan lahan, tekanan terhadap sumber daya air, dan terganggunya pola produksi pangan menjadi sinyal bahwa krisis ini tidak lagi bersifat lokal, melainkan ancaman sistemik bagi ketahanan pangan global.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore