
Relikui kerudung Veronika ditampilkan di Basilika Santo Petrus pada Minggu Kelima Prapaskah (ChurchPop)
JawaPos.com - Di tengah kalender liturgi Gereja Katolik yang memasuki fase paling sakral, sebuah tradisi kuno kembali dijalankan di Basilika Santo Petrus. Pada Minggu Kelima Prapaskah, Vatikan menampilkan secara singkat Relikui Kerudung Veronika, kain yang dalam tradisi diyakini digunakan untuk mengusap wajah Yesus Kristus dalam perjalanan menuju Golgota.
Ritual ini berlangsung singkat hanya beberapa menit namun memiliki makna teologis dan historis yang mendalam. Pada Minggu, 22 Maret 2026, ratusan peziarah dari berbagai negara berkumpul di dalam basilika untuk menyaksikan momen tersebut, berdoa, dan merenungkan kisah sengsara Kristus yang menjadi inti iman Kristen.
Dilansir dari Vatican News, penampilan relik ini sengaja dibatasi dalam durasi sangat singkat guna menjaga kesakralannya. Tradisi ini juga menjadi penanda dimulainya fase intens menuju Pekan Suci, yang memperingati sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Melansir Rome Reports, Selasa (24/3/2026), Kerudung Veronika diyakini sebagai kain yang menyimpan jejak wajah Kristus. Dalam tradisi Gereja, peristiwa ini merujuk pada momen ketika seorang perempuan bernama Veronika menyeka wajah Yesus saat Ia memikul salib. Secara etimologis, nama Veronika berasal dari istilah Latin vera icona yang berarti "ikon sejati," merujuk pada keyakinan bahwa gambar wajah Kristus tercetak secara ajaib pada kain tersebut.
Penjelasan ini diperkuat oleh Pietro Zander dari Museum Perbendaharaan Basilika Santo Petrus. Ia mengatakan, "Menurut tradisi, relikui ini berasal dari Yerusalem melalui Veronika, sosok legendaris yang mengusap wajah Tuhan kita dalam perjalanan menuju Kalvari, dan gambar-Nya tetap tercetak pada kain itu." Hal ini menegaskan bahwa relik ini tidak hanya dipahami sebagai artefak, tetapi sebagai simbol iman yang diwariskan lintas generasi.
Selain Kerudung Veronika, Vatikan juga menyimpan relikui lain yang berkaitan langsung dengan peristiwa sengsara Kristus, yakni Tombak Suci Longinus dan fragmen Salib Sejati. Ketiganya hanya ditampilkan kepada publik selama masa Prapaskah, memperkuat karakter eksklusif sekaligus sakral dari tradisi ini.
Dari sisi sejarah, keberadaan Kerudung Veronika dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-14. Bahkan, referensi lebih awal pada abad ke-8 menyebut adanya kapel yang didedikasikan untuk Santa Veronika di Basilika Santo Petrus lama. Menurut ChurchPOP, Pada 1207, Paus Innocentius III menampilkan relik ini secara publik untuk pertama kalinya sekaligus menyusun doa khusus, yang kemudian memicu tradisi ziarah tahunan ini.
Tradisi tersebut mencapai momentum besar pada Tahun Yubileum 1300 yang dicanangkan Paus Bonifasius VIII. Saat itu, Kerudung Veronika menjadi salah satu pusat perhatian peziarah internasional dan bahkan disebut sebagai salah satu "keajaiban kota Roma." Sastrawan Dante Alighieri termasuk di antara peziarah yang mencatat pengalaman tersebut dalam karya Paradiso.
Namun, perjalanan relik ini juga sempat menghadapi ancaman sejarah. Dalam peristiwa Penjarahan Roma tahun 1527, keberadaannya sempat tidak pasti. Meski demikian, relik tersebut bertahan dan pada abad ke-17 ditemukan kembali tersimpan di dalam struktur Basilika Santo Petrus yang baru.
Seiring berjalannya waktu, tradisi penampilan relikui kerudung Veronika ini terus dipertahankan dan terintegrasi dalam praktik liturgi modern. Prosesi dimulai dengan doa pembuka dan nyanyian Litani Para Kudus, diikuti perarakan umat, biarawan, serta para imam menuju altar utama sebagai pusat perayaan.
Selanjutnya, relik diambil dari kapel yang terletak di atas patung Santa Veronika, diiringi dentang lonceng dan lantunan himne Latin Vexilla Regis. Momentum ini menjadi penanda dimulainya bagian paling sakral dalam rangkaian prosesi.
Pada puncak perayaan, relik tersebut diperlihatkan ke berbagai arah sebagai bentuk penghormatan universal kepada umat yang hadir. Dupa dibakar sebagai simbol penghormatan, sementara lonceng kembali dibunyikan ketika relik dikembalikan ke tempat penyimpanannya, menutup rangkaian dalam suasana hening dan khidmat.
Tradisi ini memiliki makna simbolis yang kuat. Ketika sebagian besar gambar suci di gereja-gereja ditutup menjelang Paskah, Basilika Santo Petrus justru membuka kembali satu relik ini. Dengan demikian, umat diberi kesempatan untuk "memandang kembali wajah Kristus" sebelum memasuki perayaan inti iman Kristen.
