
Paus Leo XIV menyerukan perdamaian global dan meminta umat Katolik tidak tinggal diam menghadapi meningkatnya konflik dunia. Foto: (EWTN News)
JawaPos.com — Di tengah meningkatnya konflik global, Vatikan memperingatkan kecenderungan negara-negara mengandalkan kekuatan militer dan pengaruh politik sebagai penentu utama dalam hubungan internasional, alih-alih mengedepankan diplomasi dan hukum internasional.
Dalam situasi ini, umat Katolik didorong untuk tidak membiarkan Paus Leo XIV sendirian dalam menyuarakan penolakan terhadap perang serta mendukung secara nyata upaya perdamaian.
Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menegaskan bahwa seruan damai yang disampaikan Paus Leo bukan sekadar simbol moral, melainkan membutuhkan dukungan konkret dari umat beriman dan masyarakat internasional agar tidak kehilangan relevansi di tengah dinamika geopolitik yang keras.
Baca Juga:Vatikan Resmi Gunakan Bahasa Indonesia untuk Layanan Media di Vatican News, Jadi Bahasa ke-57
Dilansir dari EWTN News, Sabtu (11/4/2026), Parolin menyatakan bahwa suara Paus Leo XIV memiliki nilai moral yang kuat dan menjadi peringatan bagi dunia, namun berisiko tidak berdampak jika tidak didukung tindakan nyata. Ia mengibaratkannya sebagai “suara yang berseru di padang gurun” jika hanya didengar tanpa diikuti dukungan konkret. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan majalah budaya Dialoghi yang berafiliasi dengan Aksi Katolik Italia.
Lebih lanjut, Kardinal Pietro Parolin mengaitkan pernyataan tersebut dengan doa bersama untuk perdamaian yang diserukan oleh Paus Leo XIV pada 11 April di Basilika Santo Petrus. Menurutnya, momentum ini menjadi simbol penting untuk memperkuat solidaritas global serta mendorong dukungan nyata terhadap pesan damai Gereja.
Sebagai pelajaran dari masa lalu, Kardinal Pietro Parolin mengingatkan invasi Irak 2003, ketika Paus Yohanes Paulus II sudah memperingatkan agar perang dihindari, namun tidak mendapat dukungan berarti dari dunia internasional. Menurutnya, kondisi itu tidak boleh terulang.
Karena itu, ia menekankan pentingnya mendukung seruan Paus Leo XIV untuk perdamaian yang tidak bergantung pada senjata, sekaligus menolak narasi yang membenarkan perlombaan militer. “Diperlukan lebih banyak suara damai, lebih banyak suara yang menentang kegilaan perlombaan senjata, serta lebih banyak suara yang membela saudara-saudari kita yang paling miskin,” ujarnya.
Ia juga mendorong munculnya gagasan baru, termasuk dari kalangan akademik Katolik, untuk membangun sistem ekonomi yang lebih adil dan berpihak pada kelompok rentan, bukan sekadar mengejar keuntungan.
Di sisi lain, Parolin menilai situasi global saat ini semakin mengkhawatirkan karena penggunaan kekuatan militer kerap dianggap sebagai solusi cepat. Ia mengaku heran melihat betapa mudahnya opsi militer dipandang sebagai jalan keluar utama dalam berbagai konflik.
Akibatnya, diplomasi internasional semakin melemah dan kehilangan peran dalam menawarkan solusi damai. Pada saat yang sama, kesadaran akan dampak buruk perang dan pentingnya aturan bersama juga semakin menurun.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
